CHATBOX

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!
Get your own Chat Box! Go Large!
Indonesian Radio Online
http://www.focus.co.id/images/yahoo-icon.png

01 Februari, 2009

Apresiasi Sastra

APRESIASI SASTRA

1. Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendengar istilah apresiasi. Barangkali dalam benak kita muncul pertanyaan: apa itu apresiasi? Istilah apresiasi muncul dari kata appreciate (Ing), yang berarti menghargai. Sehingga secara sederhana dapat dikatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan untuk menghargai sastra. Namun, dalam perkembangan berikutnya pengertian apresiasi sastra semakin luas. Banyak tokoh mencoba memberikan batasan tentang apresiasi sastra. S. Effendi memberikan batasan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pada cipta sastra tersebut. Sedangkan tokoh lain , Yus Rusyana mendefinisikan apresiasi sastra sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai karya satra, dan kegairahan serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat dari semua itu.
Dua batasan yang dikemukakan oleh dua tokoh di atas pada prinsipnya tidak saling bertentangan, tetapi justru saling melengkapi. Perbedaan yang tampak hanyalah terletak pada penggunaan istilah saja. Lepas dari perbedaan istilah yang dipakai oleh dua tokoh tersebut, pada intinya kegiatan apresiasi sastra didasari oleh pengertian bahwa karya sastra itu indah dan bermanfaat (dulce et utile). Dengan kata lain, di dalam karya sastra terkandung nilai-nilai hidup. Untuk itu, apresiasi sastra bertujuan mengasah sikap peka terhadap persoalan hidup, mempertebal nilai moral dan nilai estetis dalam diri . Untuk dapat memahami dan memperoleh nilai-nilai dalam karya sastra, tidak ada cara lain kecuali membaca, bergaul, dan mengakrabi karya sastra itu sendiri.
2. Tingkatan-Tingkatan dalam Apresiasi Sastra
Mengingat tujuan apresiasi sastra sebagaimana telah diuraikan di atas adalah untuk mempertajam kepekaan terhadap persoalan hidup, membekali diri dengan pengalaman-pengalaman rohani, mempertebal nilai moral dan estetis; maka tingkatan dalam apresiasi sastra diukur dari tingkat keterlibatan batin apresiator. Untuk dapat mengetahui tingkat keterlibatan batin, seorang apresiator harus memiliki “patos”. Istilah “patos” berasal dari kata ‘patere’ (Latin) yang berarti ‘merasa’. Dengan kata lain, untuk dapat mencapai tingkatan-tingkatan dalam apresiasi, seorang apresiator harus dapat membuka rasa.
Tingkatan pertama dalam apresiasi sastra adalah “simpati”. Pada tingkatan ini batin apresiator tergetar sehingga muncul keinginan untuk memberikan perhatian terhadap karya sastra yang dibaca/digauli/diakrabinya. Jika kita membaca karya sastra kemudian mulai muncul perasaan senang terhasdap karya sastra tersebut, berarti kita sudah mulai masuk ke tahap pertama dalam apresiasi sastra, yaitu simpati.
Tingkatan kedua dalam apresiasi sastra adalah ‘empati’ Pada tingkatan ini batin apresiator mulai bisa ikut merasakan dan terlibat dengan isi dalam karya sastra itu. Dengan kata lain, jika kita membaca prosa cerita, kemudian kita bisa ikut merasakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita tersebut, berarti tingkat apresiasi sastra kita sudah sampai pada tingkat kedua, yaitu empati.
Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi dalam apresiasi sastra adalah ‘refleksi diri’. Pada tingkatan ini, seorang apresiator tidak hanya sekedar tergetar (simpati), atau dapat merasakan (empati) saja, tetapi dapat melakukan refleksi diri atas nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu. Dengan kata lain, pada tingkat ketiga ini seorang apresiator dapat memetik nilai-nilai karya sastra sebagai sarana untuk berrefleksi, bercermin diri.

3. Pentahapan dalam Kegiatan Apresiasi Sastra
Jika di atas telah diuraikan tentang tingkatan-tingkatan dalam apresiasi sastra yang didasarkan pada keterlibatan batin apresiator, berikut ini akan dipaparkan tahapan-tahapan dalam kegiatan apresiasi sastra. Pentahapan dalam kegiatan apresiasi sastra ini dilihat dari apa yang dilakukan oleh apresiator
Pada tahap pertama, seorang apresiator membiarkan pikirannya, perasaan dan daya khayalnya mengembara sebebas mungkin mengikuti apa yang dimaui oleh pengarang karya sastra yang dibacanya. Pada tahap ini apresiator belum mengambil sikap kritis terhadap karya sastra yang dibacanya.
Pada tahap kedua, seorang apresiator menghadapi karya sastra secara intelektual. Ia menanggalkan perasaan dan daya khayalnya, dan berusaha memahami karya sastra tersebut dengan cara menyelidiki karya sastra dari unsur-unsur pembentuknya. Ini berarti, apresiator memandang karya sastra sebagai suatu struktur. Pada tahapan ini, penyelidikan unsur-unsur karya sastra oleh apresiator dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada karya sastra itu.
Pada tahap ketiga, apresiator memandang karya sastra dalam kerangka historisnya. Artinya, ia memandang karya sastra sebagai pribadi yang mempunyai ruang dan waktu. Dalam pandanganya, tidak ada karya sastra yang tidak diciptakan dalam ruang dan waktu tertentu. Dengan kata lain, pada tahapan ini seorang apresiator mencoba memahami karya sastra dari unsur sosial budaya, situasi pengarang, dan segala hal yang melatarbelakangi karya sastra itu diciptakan.
Lalu, bagaimana sikap apresiator yang baik? Apresiator yang baik adalah apresiator yang dapat menerapkan ketiga tahapan tersebut secara padu, sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu benar-benar ia pahami dengan membiarkan perasaannya, mencoba menyelidiki unsur-unsurnya, dan berusaha pula memahami situasi sosial budaya saat karya sastra tersebut diciptakan.

4. Rendahnya Apresiasi Sastra di Masyarakat
Rendahnya tingkat apresiasi masyarakat (publik) terhadap sastra hingga kini masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat dan pemerhati sastra. Acara baca puisi, cerpen atau teater, apalagi seminar/diskusi, sering luput dari perhatian publik; hanya dihadiri oleh beberapa gelintir orang saja. Keadaan semacam itu diperparah dengan rendahnya minat baca publik terhadap buku-buku sastra. Lihat saja di perpustakaan atau toko-toko buku. Buku-buku sastra hanya sekadar jadi pelengkap dan pajangan; dibiarkan terpuruk tak tersentuh.
Tidak heran jika Taufiq Ismail pernah mengatakan bahwa masyarakat kita telah dihinggapi gejala “rabun sastra”, sehingga gagal menikmati keindahan nilai yang terkandung dalam karya sastra. Padahal, dengan membaca karya sastra, pembaca akan memperoleh kegembiraan dan kepuasan batin berupa hiburan intelektual dan spiritual yang akan membuka ruang kesadarannya akan makna kebenaran hidup hakiki; menjadikan manusia yang berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap sikap arif dan luhur budi (Sumardjo dan Saini, 1994).
Hal itu tidak berlebihan, sebab –meminjam istilah Amini (1996)– karya sastra mengandung nilai edukatif sebagai “panduan” dalam memasuki kompleksitas kejiwaan manusia, hubungan antarpribadi dan masyarakat, hingga alam semesta dan Tuhan. Seraya menghibur, sastra menawarkan pathos, nilai kearifan, kedalaman perenungan, dan menjadi semacam model-model perilaku yang dikandungnya.
Hal senada juga dikemukakan oleh Hassan (1989) bahwa karya sastra merupakan gelanggang manifestasi berbagai kondisi manusiawi, sehingga mampu mementaskan representasi aneka ragam penghayatan manusia. Melalui karya sastra, manusia berpeluang melakukan objektivikasi penghayatannya secara mendalam; menjadi tempat diproyeksikannya pengalaman psikis manusia. Dengan demikian, pembaca akan terbimbing kepekaan nuraninya untuk mengukuhi nilai keluhuran dan kemuliaan budi dalam hidup, serta berusaha menghindari perilaku yang bisa menodai citra keharmonisan hidup di tengah komunitas dan paguyuban sosialnya.
Yang lebih memprihatinkan, gejala “rabun sastra” dinilai telah mewabah pula di kalangan pelajar kita. Tingkat apresiasi mereka terhadap karya sastra dinilai belum seperti yang diharapkan. Mereka lebih akrab bergaul dengan situs-situs porno –konon pada bulan April nanti akan diblokir– atau melambungkan khayal lewat play-station. Akibatnya, mereka menjadi begitu rentan terhadap imaji kekerasan, seks, dan narkoba.
Mengapa apresiasi sastra pelajar kita menjadi demikian rendah? Setidaknya, ada tiga argumen yang layak dikemukakan. Pertama, pelajar kita mulai kehilangan kepekaan terhadap persoalan-persoalan moral, agama, dan budi pekerti akibat merebaknya “doktrin” materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme yang dikibarkan oleh “bendera” modernisasi. Imbasnya, gebyar lahiriah dan duniawi dianggap lebih memiliki pesona dan daya pikat ketimbang urusan batiniah, kemanusiaan, budaya, dan religi.
Kedua, situasi pengajaran sastra di sekolah belum sepenuhnya mampu membangkitkan minat dan gairah siswa untuk belajar apresiasi sastra secara suntuk, total, dan intens. Suasana pengajaran sastra berlangsung monoton, tidak menarik, bahkan menegangkan. Siswa hanya diperlakukan bak “tong sampah” yang terus-terusan menerima transfer ilmu bercorak teoretis dan hafalan dari sang guru, tanpa disediakan ruang untuk berdiskusi, berdialog, dan bercurah pikir secara terbuka, interaktif, kritis, dan kreatif. Siswa hanya dibebani target untuk mencapai hasil maksimal dalam prestasi akademik tanpa diimbangi dengan pendalaman secara apresiatif.
Ketiga, tugas ganda guru bahasa Indonesia yang diwajibkan untuk mengajarkan sastra. Jika kita melihat fakta yang terjadi, secara jujur mesti diakui, guru yang mahir mengajarkan bahasa belum tentu tampil memikat ketika dituntut untuk mengajarkan sastra. Mengajarkan puisi, misalnya, selain dituntut menguasai materi ajar, guru juga diharapkan mampu “berakting” dengan vokal, gerak, dan ekspresi yang memikat, sehingga secara sugestif mampu menggairahkan minat siswa untuk belajar apresiasi sastra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar