CHATBOX

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!
Get your own Chat Box! Go Large!
Indonesian Radio Online
http://www.focus.co.id/images/yahoo-icon.png

02 Februari, 2009

Pencemaran Udara

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Banyak kota–kota didunia dilanda oleh permasalahan lingkungan,paling tidak adalah semakin memburuknya kualitas udara.terpapar oleh polusi udara saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kota-kota seluruh dunia.Informasi yang ada menunjukkan bahwa pedoman kualitas udara dari WHO secara teratur telah disebar diberbagai kota, bahkan di beberapa tempat tersebar luas.
Angka yang didapat dari kota-kota yang sedang berkembang dan umumnya banyak diantara mereka tidak ada ukuran pengontrol polusi, kemungkinan akan terjadi pencemaran bagi buruh,dan kualitas hidup sebagian besar penduduk kota akan semakin memburuk. Walaupun beberapa kemajuan talah dicapai dalam pengendalian polusi udara dinegara-negara Industri lebih dari dua dekade terakhir ini, Kualitas udara terutama sekali dikota-kota besar negara sedang berkembang lebih buruk.

B. Perumusan Masalah
1. Strategi Pencegahan Penyebab Pencemaran Udara
Strategi pencegahan adalah “Pengurangan pengaruh faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara dan peningkatan dukungan, perhatian, dan pelibatan masyarakat dan pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas udara”. Intervensi strategis yang diusulkan adalah untuk mengfokus kepada kegiatan yang:
− Mengembangkan perkotaan yang terencana dan terkendali
− Merasionalisasikan tata guna lahan perkotaan
− Meningkatkan perhatian masyarakat dalam berkendaraan bermotor
− Meningkatkan pemanfaatan bahan bakar yang ramah lingkungan (lebih bersih)
− Meningkatkan perhatian dan peli-batan masyarakat dalam pencegahan dan pengen-dalian pencemaran udara
2. Strategi Pengendalian Sumber Pencemaran Udara
Strategi pengendalian adalah “Penurunan beban emisi pencemar udara dari sumber transportasi dan industri dan sumber pencemar lainnya melalui penerapan baku mutu dan ambang batas emisi, penggunaan bahan bakar lebih bersih, dan sistem transportasi dan manajemen lalu lintas yang efektif”. Intervensi strategis yang diusulkan adalah untuk mengfokus kepada kegiatan yang:
− Meningkatkan pemantauan kualitas BBM
− Menerapkan ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor
− Meningkatkan manajemen transportasi
− Meningkatkan dan memberbaiki pelayanan angkutan umum
− Mengembangkan fasilitas dan mendorong penggunaan transportasi tidak bermotor
− Mendorong pemakian kendaraan secara bersama-sana (car-pooling)
− Meningkatkan impementasi baku mutu emisi sumber tidak bergerak
− Pengolahan limbah padat untuk mengurangi pencemaran udara
− Pengendalian pencemaran udara dalam ruang
2. Strategi Pemantauan Pajanan
Strategi pemantauan adalah “Pengukuran tingkat konsentrasi yang terpajan pada reseptor guna mengestimasi besaran dampak kesehatan dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pencemar tertentu, penyediaan informasi kualitas udara dan beban emisi daerah untuk keperluan penyusunan dan evaluasi kebijakan pengelolaan kualitas udara serta peningkatan perhatian masyarakat dan pengembangan dan penerapan metode estimasi kualitas udara”. Intervensi strategis yang diusulkan adalah untuk mengfokus kepada kegiatan yang:
− Meningkatkan sistem pemantauan udara ambien
− Menguatkan sistem pemantuan kualitas udara daerah
− Meningkatkan ketersediaan basis data inventarisasi emisi yang berkelanjutan
− Mengembangkan metode prediksi kualitas udara
− Meningkatkan penyebarluasan informasi kualitas udara secara teratur
4. Strategi Mitigasi Dampak Pencemaran Udara
Strategi mitigasi adalah “Pelaksanaan pemantauan komprehensif faktor resiko kesehatan pencemaran udara di dalam dan luar ruang, pelaksanaan penelitian dampak pencemaran
udara pada tanaman, bahan dan bangunan, dan analisis ekonomi pencemaran udara, serta pemeliharaan rutin bangunan-bangunan bersejarah dan peningkatan penghematan energi dan penggunaan energi alternatif (terbarukan)”. Intervensi strategis yang diusulkan adalah untuk mengfokus kepada kegiatan yang:
− Meningkatkan sistem pemantauan dan penanggulangan dampak kesehatan
− Meningkatkan pemantuan dampak pencemaran udara pada tanaman
− Meningkatkan pemantauan dampak pencemaran udara pada bangunan dan bangunan bersejarah
− Meyusun kajian ekonomi akibat pencemaran udara
− Menurunkan pencemar udara dalam rangka menurunkan dampak gas rumah kaca
5. Strategi Penguatan Kelembagaan
Strategi pengendalian adalah “Penyediaan perangkat pengelolaan kualitas udara yang baik yang mencakup tata laksana, mekanisme koordinasi, peraturan-peraturan, kompetensi sumber daya manusia, prosedur dan peralatan penunjang penegakan hukum, dan sumber pendanaan”. Intervensi strategis yang diusulkan adalah untuk mengfokus kepada kegiatan yang:
− Meningkatkan kinerja dan koordinasi sekretariat bersama untuk perbaikan kualitas udara perkotaan.
− Sinkronisasi peraturan dan penyusunan berbagai pedoman teknis
− Melaksanakan penegakkan hukum
− Meningkatkan kapasitas SDM Daerah
− Penyusunan Perimbangan Pendanaan untuk Program Pengendalian Pencemaran Udara
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari makalah ini adalah meningkatkan penerapan peraturan-perundangan yang berlaku yang terkait dengan pengendalian pencemaran udara, dan menyiapkan kerangka kerja strategis untuk pengelolaan kualitas udara perkotaan.





D. Metodologi Dan Teknik Penelitian
COBALAH Anda berdiri di pinggir Jln. Asia Afrika dekat Alun-alun Bandung selama 15 menit sambil menghirup udara dalam-dalam. Apa yang akan anda rasakan? Saya pernah mencobanya dan belum sampai lima menit, merasa sesak, batuk-batuk, dan tidak tahan untuk langsung menutup hidung dengan saputangan. Itulah udara Kota Bandung saat ini, tercemar banyak polutan.

BAB II
TEORI DAN PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
a. Pengertian tentang Polusi Udara Perkotaan
Masalah pencemaran udara dikota-kota besar, sangat dipengaruhi dan berbeda oleh berbagai faktor yaitu: tofografi, kependudukan, iklim dan cuaca serta tingkat atau angka perkembangan sosio ekonomi dan industrialisasi. Masalahmasalah ini akan meningkat keadaannya, jika jumlah penduduk perkotaan semakin meningkat yang mengakibatkan jumlah penduduk yang terpapar polusi udara juga meningkat.
Perkiraan–perkiraan PBB menunjukkan sampai tahun 2000,47 persen dari jumlah keseluruhan populasi akan tinggal didaerah perkotaan. Pada tahun1990, 60 kota–kota didunia mempunyai jumlah penduduk ± 3 juta orang dan pada tahun 2000 diproyeksikan 85 kota-kota akan termasuk jenis katagori ini. Pencemar udara dibedakan menjadi pencemar primer dan pencemar sekunder. Pencemar primer adalah substansi pencemar yang ditimbulkan langsung dari sumber pencemaran udara. Karbon monoksida adalah sebuah contoh dari pencemar udara primer karena ia merupakan hasil dari pembakaran. Pencemar sekunder adalah substansi pencemar yang terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar primer di atmosfer. Pembentukan ozon dalam smog fotokimia adalah sebuah contoh dari pencemaran udara sekunder.
Atmosfer merupakan sebuah sistem yang kompleks, dinamik, dan rapuh. Belakangan ini pertumbuhan keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global, perubahan iklim dan deplesi ozon di stratosfer semakin meningkat.
Substansi pencemar yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan. Jauhnya penetrasi zat pencemar ke dalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar. Partikulat berukuran besar dapat tertahan di saluran pernapasan bagian atas, sedangkan partikulat berukuran kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru-paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), termasuk di antaranya, asma, bronkitis, dan gangguan pernapasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik.
Studi ADB memperkirakan dampak pencemaran udara di Jakarta yang berkaitan dengan kematian prematur, perawatan rumah sakit, berkurangnya hari kerja efektif, dan ISPA pada tahun 1998 senilai dengan 1,8 trilyun rupiah dan akan meningkat menjadi 4,3 trilyun rupiah di tahun 2015.

Polusi udara merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat penting. Polusi udara ini berpotensi untuk memengaruhi tingkat kesehatan masyarakat, antara lain dapat menimbulkan berbagai penyakit bahkan dapat menyebabkan kematian. Penyakit yang ditimbulkan ini bergantung pada peningkatan jumlah bahan polutan yang terkandung di udara. Sedangkan mereka yang rentan terhadap dampak polusi udara adalah mereka yang sangat muda, sangat tua atau mereka yang sebelumnya memang telah menderita penyakit paru dan jantung.
Polusi udara dapat terjadi dimana-mana, baik di dalam ruangan (in door pollution) maupun di luar ruangan (outdoor air pollution). Polusi udara di luar ruangan biasanya bersumber dari asap industri dan kendaraan bermotor. Sementara itu, polusi udara di dalam ruangan terjadi karena adanya asap rokok, adanya gangguan sirkulasi udara dari gedung-gedung dan serta adanya asap yang keluar dari dapur tradisional ketika proses memasak.
Secara umum, bahan polutan menyebab polusi udara dapat menimbulkan efek lokal dan efek sistemik pada kesehatan tubuh kita. Efek lokal dari polusi udara terjadi pada organ tubuh kita yang memang langsung berhubungan dengan bahan polutan, seperti paru dan kulit atau juga pada alat tubuh lain akibat terbawanya bahan polutan melalui darah misalnya hepar. Sedangkan efek sistemik dari polusi udara terjadi pada sistem tubuh tertentu, misalnya sistem syaraf atau peredaran darah. Dilain pihak, efek dari polusi udara terhadap tubuh juga dapat berupa efek akut maupun kronik. Efek akut pada tubuh akan berlangsung, jika terjadi kontak dengan bahan pencemar, misalnya saja terjadi batuk-batuk setelah tercemar bahan oksidan seperti ozon (O3) dan PAN (Peroksi Asetil Nitrat). Sementara itu, efek kronik yang timbul dalam tubuh akan dapat dirasakan setelah polusi udara berlangsung dalam jangka waktu yang lama, misalnya terjadinya peradangan paru-paru akibat paparan debu asbes.
Dampak dari polusi udara dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung oleh penduduk. Dampak langsung terjadi pada penduduk yang tinggal di kawasan industri yang mengeluarkan asap debu di wilayah kawasan perkotaan dengan jumlah penduduk dan jumlah kendaraan bermotor yang padat. Sedangkan dampak tidak langsung dari polusi udara dapat berupa kerusakan sawah dan perkebunan akibat hujan asam (acid rain) yang mengakibatkan penurunan mutu tanaman pangan.
Berdasarkan penelitian, ada tiga cara masuknya polutan dari udara ke tubuh manusia, yaitu melalui inhalasi, ingesti dan penetrasi kulit. Inhalasi, yaitu masuknya bahan polutan dari udara ke paru-paru. Hal ini dapat menyebabkan gangguan di paru dan saluran napas, dan jika masuk ke dalam peredaran darah akan menimbulkan akibat di alat tubuh lain. Ingesti, yaitu masuknya bahan polutan ke dalam saluran cerna. Reflek batuk akan mengeluarkan bahan polutan dari paru yang kemudian ditelan masuk ke saluran cerna. Bahan polutan ini juga dapat masuk bersamaan dengan makan dan minum. Seperti juga halnya di paru, maka bahan polutan yang masuk ke saluran cerna juga dapat menimbulkan efek lokal dan dapat juga disebarkan ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Penetrasi kulit, yaitu masuknya bahan polutan ke dalam tubuh melalui permukaan kulit. Sebagian besar polutan hanya menimbulkan akibat buruk dari bagian permukaan kulit seperti dermitis dan alergi. Khusus untuk polutan organik dapat mengakibatkan penetrasi kulit dan menimbulkan efek sistemik.

b. Pertumbuhan Produksi Kendaraan Bermotor dan Konsumsi BBM Untuk Transportasi
Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang terjadi di kota-kota besar mencapai 8-12% per tahun. Dimana data mengenai pertumbuhan dari berbagai jenis kendaraan dari tahun 1990 hingga tahun 1999 dapat dilihat pada tabel II.




Tabel II.
Jumlah kendaraan di Indonesia mulai tahun 1990-1999
(Tidak termasuk kendaraan ABRI dan CD )

Sumber : Kepolisian Negara Republik Indonesia, Direktorat Lalu Lintas (Januari 2000)
Dari data pada tahun 1990 hingga tahun 1998 dapat dilihat bahwa jenis kendaraan yang mendominasi adalah sepeda motor. Dimana grafik mengenai persentase kendaraan yang ada di Indonesia sebagai berikut

Tabel. III
Perkiraan Emisi dan Buang Dari Berbagai Kendaraan
Bermotor di JABOTABEK

Dan juga konsumsi BBM secara Nasional dari Pertamina (April 99 – Nopember 99) berupa Premix, Premium dan Solar mencapai 34.499.347 KI, dengan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk transpotasi darat berdasarkan Badan Litbang Perhubungan (1996) pada Tabel III.

Tabel. IV
PERKIRAAN RATA-RATA KONSUMSI ENERGI SEKTOR TRANSPORTASI
Sumber-sumber polusi udara
Pertumbuhan polusi kota dan tingakat industrialisasi yang tak terhindar, akan mengarah kepada kebutuhan enegi yang lebi besar, pada umumnya akan menghasilkan pembuabuangan limbah / zat pencemar lebih banyak.pembakaran bahan bakar posil untuk pemanasan rumahtangga untuk pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, dalam proses–proses industri dan pembuangan limbah padat dengan pembakaran merupakan sumber utama dari pembuangan limbah zat-zat pencemar didaerah perkotaan.
.
Polusi Udara dan Implikasinya terhadap Kesehatan
Menurut World Bank, 70 persen sumber pencemar berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tinggi menyebabkan pencemaran udara di Indonesia menjadi sangat serius. Saat ini terdapat lebih dari 20 juta unit kendaraan bermotor di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 4 juta unit diantaranya berseliweran di jalanan Jakarta

c. Daftar Kendaraan Penyebab Polusi Udara
Jakarta merupakan kota polusi ke tiga di dunia. Sebuah “prestasi” yang sangat memprihatinkan. Apakah tidak ada tindakan dari Pemda DKI untuk meminimalisasi? jawabnya tentu ada, apalagi Jakarta dipimpin oleh orang yang mengaku “ahli”nya menangani Jakarta yaitu Fauzi Bowo. Sayangnya pejabat DKI tidak menjadikan masalah polusi sebagai prioritas utama. Alasannya saya tidak tahu pasti, tapi mungkin saja karena kebanyakan dari mereka ke kantor naik mobil ber-AC sehingga tidak merasakan parahnya polusi di Jakarta. Andai mayoritas dari mereka sering naik motor atau angkot, Insya Allah soal polusi bisa jadi salah satu prioritas utama karena mereka sudah pasti merasakan segarnya menghirup asap knalpot. Alasan lainnya mungkin saja program penanggulangan polusi ini bukan proyek besar alias duitnya kecil.
Saya gak mau panjang lebar mengkritik pemda DKI. Lebih baik bikin tulisan kendaraan mana saja yang layak dimusnahkan atau minimal diremajakan. Tulisan ini juga tidak dimaksudkan untuk menjelek-jelekan produsen kendaraan ternama. Tapi justru sebagai masukan kepada mereka pentingnya mengupgrade teknologi kendaraan yang lebih ramah lingkungan.


1. Bajaj Roda Tiga Berbahan Bakar Bensin Kendaraan ini lebih dikenal sebagai “kendaraan Tuhan” karena cuma sopir dan Tuhan saja yang tau kapan mau belok. Ini juga kendaraan no.1 yang paling dimusuhi pengendara sepeda motor (bikers). Asapnya luar biasa banyak kayak bakaran sampah. Belum lagi suara bisingnya kayak kaleng rombeng. Trus paling ngeselin kalo dia ngambil jalur motor, bakalan disemprot asap dah tuh motor yang dibelakangnya. Mau marah ama sopirnya kasian soale orang susah hihihi.
Saat ini sudah ada beberapa bajaj berbahan bakar gas yang ramah lingkungan. Sayang, jumlahnya masih terlalu sedikit dibanding bajaj bensin. Saya berharap Fauzi Bowo yang konon ahli dalam menangani jakarta membuktikan ucapannya untuk segera mengganti bajaj bensin dengan gas. Entah bagaimana caranya mungkin dengan cara disubsidi agar pemilik bajaj tidak berat dari sisi keuangan. Percuma dong duit Pemda banyak tapi gak buat nolong rakyat.
2. Yamaha RX-King : Dikenal sebagai motor jambret karena sering dipakai oleh penjahat. Mungkin inilah motor dengan “dosa” terbanyak : asapnya maknyus, suaranya berisik, sering dipake penjahat pula. Boleh dibilang tiap kali ketemu motor ini 95% pasti asepnya kayak bakaran sampah.
3. Yamaha F1ZR : Yamaha ternyata produsen motor paling hobi bikin polusi udara. Boleh dibilang tiap kali ketemu motor ini 95% pasti asepnya kayak bakaran sampah.
4. Suzuki Tornado GS : Untuk suzuki, motor tipe ini yang paling banyak mengeluarkan asap polusi.
5. Vespa : Untuk jenis motor ini masih cukup berimbang antara yang asapnya tebal dan bebas asap. Biasanya motor yang usianya sudah tua yang menimbulkan polusi. Tidak hanya polusi udara namun juga suara bising kerap ditimbulkan oleh motor vespa yang telah mengalami banyak modifikasi.
6. Isuzu Panther : Mobil ini punya slogan Pake Panther…. Pinter Pake Panther… Klenger. Kebanyakan panther yang polusi adalah keluaran lama. Tapi panther keluaran terbaru cukup sering juga saya melihatnya mengeluarkan asap tebal. Hemat sih hemat… tapi kalo merusak bumi buat apa toh?
7. Metro Mini, Kopaja, Bis Mayasari, Patas/PPD dan sejenisnya : angkot merupakan penyumbang terbesar polusi di Jakarta. Boleh dibilang 70% polusi di sumbang oleh angkot. Saya memprediksi 98% metromini dan kopaja saat ini boleh dibilang tidak ada yang tidak ngebul asapnya. Pernah sih saya melihat sekali saja ada metromini yang tidak mengeluarkan asap tebal. Cukup kagum saya dibuatnya waktu itu.




d. Dampak yang disebabkan oleh Asap Kenalpot
Tanaman yang tumbuh di daerah dengan tingkat pencemaran udara tinggi dapat terganggu pertumbuhannya dan rawan penyakit, antara lain klorosis, nekrosis, dan bintik hitam. Partikulat yang terdeposisi di permukaan tanaman dapat menghambat proses fotosintesis.
Hujan asam
pH normal air hujan adalah 5,6 karena adanya CO2 di atmosfer. Pencemar udara seperti SO2 dan NO2 bereaksi dengan air hujan membentuk asam dan menurunkan pH air hujan. Dampak dari hujan asam ini antara lain:
• Mempengaruhi kualitas air permukaan
• Merusak tanaman
• Melarutkan logam-logam berat yang terdapat dalam tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah dan air permukaan
• Bersifat korosif sehingga merusak material dan bangunan
Efek rumah kaca
Efek rumah kaca disebabkan oleh keberadaan CO2, CFC, metana, ozon, dan N2O di lapisan troposfer yang menyerap radiasi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Akibatnya panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan fenomena pemanasan global.
Dampak dari pemanasan global adalah:
• Pencairan es di kutub
• Perubahan iklim regional dan global
• Perubahan siklus hidup flora dan fauna
Kerusakan lapisan ozon
Lapisan ozon yang berada di stratosfer (ketinggian 20-35 km) merupakan pelindung alami bumi yang berfungsi memfilter radiasi ultraviolet B dari matahari. Pembentukan dan penguraian molekul-molekul ozon (O3) terjadi secara alami di stratosfer. Emisi CFC yang mencapai stratosfer dan bersifat sangat stabil menyebabkan laju penguraian molekul-molekul ozon lebih cepat dari pembentukannya, sehingga terbentuk lubang-lubang pada lapisan ozon.
Kerusakan lapisan ozon menyebabkan sinar UV-B matahri tidak terfilter dan dapat mengakibatkan kanker kulit serta penyakit pada tanaman.
B. Pengumpulan Dan Pengolongan Data
a. Zat Racun Yang Terkandung pada Asap
Zat-zat pencemar udara yang paling sering dijumpai dilingkungan perkotaan
adalah: SO2, NO dan NO2, CO, O3, SPM(=Suspended Particulate Matter) dan
Pb(=Lead). SO2 berperan dalam terjadinya hujan asam dan polusi partikel sulfat
aerosol. NO2 berperan terhadap polusi partikel dan deposit asam dan prekusor ozon
yang merupakan unsur pokok dari kabut fotokimia. Asap dan debu termasuk polusi
partikel. Ozon, CO, SPM, dan Pb seluruhnya telah dibuktikan memberi pengaruh
yang merugikan kesehatan manusia.
Pembakaran bahan bakar fosil di sumber-sumber yang menetap, mengarah
terbentuknya produksi SO2, NO dan NO2 serta Pb, sedangkan masing–masing
berminyak solar jelas terbukti menghasilkan sejumlah partikel dan SO2 sebagai
tambahan dari NO dan NO2.
Ozon merupakan suatu fotokimia oksidan secara tidak langsung dihasilkan
dari sumber-sumber pembakaran, dibentuk dibagian bawah atmosfir, dari NO dan
komponen-komponen organik yang mudah menguap(=VOCs= Volatile Organic
Compounds) atau Hidrokarbon–hidrokarbon reaktif dengan adanya sinar matahari.
VOCs dihasilkan dari keaneka ragaman sumber-sumber buatan manusia
termasuk lalu lintas jalan raya, produksi dan pemakaian zat-zat kimia organik seperti
;bahan-bahan pelarut, transport dan pemakaian crude oil, pemakaian dan distribusi
gas alam, tempat pembuangan limbah dan pabrik-pabrik limbah cair.
Walaupun penemuan-penemuan pembuangan limbah cair secara rinci tidak
tersedia luas bagi kota-kota itu sendiri. Berdasarkan observasi nasional dan adanya
peningkatan registrasi kendaraan bermotor akhir-akhir ini, dapat disimpulkan bahwa
kendaran bermotor merupakan sumber utama dari zat-zat pencemar udara terutama
CO, NO, dan NO2, SPM dimayoritas dikota-kota besar dinegara industri.
Sebaiknya dikota-kota negara berkembang menunjukkan variasi sumber
polusi udara yang lebih besar. Kontribusi relatif dari mobil dan sumber-sumber yang
bergerak / menetap terhadap emisi – emisi polutan udara berbeda nyata diantara
kota–kota,tergantung dari tingkat motorisasi, kepadatan,tipe industri yang ada.
Kontribusi dari kendaraan bermotor lebih sedikit dikota-kota dengan tingkat
motorisasi rendah seperti: di Afrika dan kota-kota terletak didaerah yang suhu dingin
(tergantung pada bahan bakar batu bara atau biomosa untuk pemanas ruangan)
Cina, Eropa Timur.
Suatu hal yang perlu diperhatikan pada beberapa negara berkembang adalah
cenderung banyaknya kendaraan bermotor tua dan tak terawat sehingga jelas
merupakan suatu faktor yang menunjukkan kendaraan tersebut adalah sumber zatzat
pencemar.
Banyaknya jumlah kendaraan bermotor didunia saat ini dipusatkan kedalam
kelompok ekonomi pendapatan tinggi dunia. Pada tahun 1988, negara–negara
OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) mencatat bahwa
dari 80% jenis-jenis mobil didunia: 70%nya adalah jenis truk dan bus-bus , >50%
merupakan kendaraan beroda dua dan tiga.
Sejak tahun 1950; armada kendaraan secara global telah meningkat 10% kali
lipat dan diperkirakan menjadi dua kali lipat dalam tempo 20 –30 Tahun mendatang,
dari sekarang berjumlah 630 juta buah. Angka pertambahan jumlah kendraan dunia
diproyeksikan melampaui kedua jumlah total produksi dan populasi diperkotaan.
Peranan kendaraan bermotor terhadap pertambahan polusi menjadi meningkat di
negara-negara yang sedang berkembang. Jika tidak dilakukan pengawasan yang
ketat terhadap zat-zat pencemar yang berkaitan dengan lalu lintas, sudah pasti akan
memperburuk kondisi udara daerah ini.
Sebagai tambah zat-zat pencemar udara yang lebih tradisionil yang lebih
umum, sejumlah besar racun dan zat kimia dideteksi telah meningkat jumlahnya
diudara perkotaan, walaupun dengan konsentrasi rendah. Contohnya :
- Logam–logam berat pilihan (Berilium, Cadnium, Merkuri)
- Sedikit zat-zat organik (Benzene, Polychlorodi benzo-dioxid, Furan,Formaldehide,
Vinychloride, Polyaromatic hidrokarbon)
- Radionucleids seperti ; radon
- Fibers; Asbes
Bahan–bahan kimia tersebut dikeluarkan dari bermacam-macam sumber seperti;
pembakaran sampah, pabrik-pabrik pengelolah limbah, proses-proses industri dan
manufaktur, dry cleaning, bahan–bahan bangunan, dan kendaraan bermotor.
Walaupun emisi-emisi zat kimia ini umumnya lebih rendah kadarnya
dibandingkan zat pencemar tradisionil, namun jelas polutan ini memberi resiko
terhadap kesehatan sehubungan dengan daya racun mereka yang sangat tinggi atau
bersifat karsinogenik bahkan bisa keduanya.
Zat-zat polutan ini lebih sering dianalisa karena rendahnya konsentrasi
mereka diudara, juga karena pengawasan yang sangat kurang. Untuk itu dilakukan
pengawasan secara otomatis
b. Peningkatan Polusi Udara Akibat Asap Kenalpot
Pertumbuhan ekonomi nasional mendorong laju konsumsi BBM terutama di sektor transportasi dan industri. Pada tahun 1992 tercatat konsumsi energi di sektor transportasi sebesar 98.89 MBOE dan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 185.79 MBOE pada tahun 2003, serta diperkirakan akan menjadi 273.16 MBOE pada tahun 2020 (Statistic Energi, LPE 2004). Dalam kurun waktu 2000-2003, jumlah kendaraan di Indonesia yang bertambah rata-rata 12% per-tahun (Statistik Perhubungan, BPS 2004) mendominasi beban emisi total CO, HC dan NOx




SULFUR DIOKSIDA
Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), yang keduanya disebut sulfur oksida (SOx). Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi sistem pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada kadar SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada kadar 1-2 ppm. SO2 dianggap pencemar yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mengalami penyakit khronis pada sistem pernafasan kadiovaskular. Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan dalam dua tahap reaksi sebagai berikut :
S + O2 < --------- > SO2
2 SO2 + O2 < --------- > 2 SO3
CARBON MONOKSIDA
Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa lain, CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin.
NITROGEN DIOKSIDA
NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Percobaan dengan pemakaian NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.
OZON
tinggi. Angka cetane B10 sekitar 64 sehingga membuat tarikan mesin kendaraan jauh lebih tinggi dibandingkan solar biasa. Sementara nilai opasitas (kadar asap) turun antara 10-20 persen. Penurunan juga terjadi pada kandungan sulfur pada biodiesel hasil pencampuran tersebut. (Sumber: SUARA PEMBARUAN DAILY, 28/9/04)
3. Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 95 Tahun 2000 Tentang Pemeriksaan Emisi Dan Perawatan Mobil Penumpang Pribadi di Propinsi DKI Jakarta

HIDROKARBON
Hidrokarbon di udara akan bereaksi dengan bahan-bahan lain dan akan membentuk ikatan baru yang disebut plycyclic aromatic hidrocarbon (PAH) yang banyak dijumpai di daerah industri dan padat lalu lintas. Bila PAH ini masuk dalam paru-paru akan menimbulkan luka dan merangsang terbentuknya sel-sel kanker.

Tabel V.
Jenis – jenis Hidrokarbon Aromatic dan Pengaruh pada Kesehatan Manusia.

KHLORIN
Gas Khlorin ( Cl2) adalah gas berwarna hijau dengan bau sangat menyengat. Berat jenis gas khlorin 2,47 kali berat udara dan 20 kali berat gas hidrogen khlorida yang toksik. Gas khlorin sangat terkenal sebagai gas beracun yang digunakan pada perang dunia ke-1.Selain bau yang menyengat gas khlorin dapat menyebabkan iritasi pada mata saluran pernafasan. Apabila gas khlorin masuk dalam jaringan paru-paru dan bereaksi dengan ion hidrogen akan dapat membentuk asam khlorida yang bersifat sangat korosif dan menyebabkan iritasi dan peradangan. Gas khlorin juga dapat mengalami proses oksidasi dan membebaskan oksigen seperti pada proses yang terjadi di bawah ini.


PARTIKEL DEBU
Pada umunya ukuran partikulat debu sekitar 5 mikron merupakan partikulat udara yang dapat langsung masuk ke dalam paru-paru dan mengendap di alveoli. Keadaan ini bukan berarti bahwa ukuran partikulat yang lebih besar dari 5 mikron tidak berbahaya, karena

partikulat yang lebih besar dapat mengganggu saluran pernafasan bagian atas dan menyebabkan iritasi.
TIMAH HITAM
Gangguan kesehatan adalah akibat bereaksinya Pb dengan gugusan sulfhidril dari protein yang menyebabkan pengendapan protein dan menghambat pembuatan haemoglobin, Gejala keracunan akut didapati bila tertelan dalam jumlah besar yang dapat menimbulkan sakit perut muntah atau diare akut. Gejala keracunan kronis bisa menyebabkan hilang nafsu makan, konstipasi lelah sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang dan gangguan penglihatan.

Tabel V. Indeks Standar Pencemaran Udara




Gambar 2. Skenario Implementasi BBN

Tabel VI. Perbandingan minyak jarak (BBN) dengan minyak diesel (BBM)
Blending 10% (B10) adalah bahan bakar dengan komposisi 10% minyak nabati dan 90% minyak solar. B10 jauh lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai cetane lebih tinggi. Angka cetane B10 sekitar 64 sehingga membuat tarikan mesin kendaraan jauh lebih tinggi dibandingkan solar biasa. Sementara nilai opasitas (kadar asap) turun antara 10-20 persen. Penurunan juga terjadi pada kandungan sulfur pada biodiesel hasil pencampuran tersebut. (Sumber: SUARA PEMBARUAN DAILY, 28/9/04)
3. Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 95 Tahun 2000 Tentang Pemeriksaan Emisi Dan Perawatan Mobil Penumpang Pribadi di Propinsi DKI Jakarta

Sekitar 70 persen pencemaran udara di Kota Bandung diakibatkan oleh kegiatan transportasi. Sebihnya dari sumber tidak bergerak, seperti industri dan pembakaran sampah. Pencemaran ini telah membuat sejumlah warga Bandung menderita gangguan pernapasan, penyakit paru-paru dan gangguan mental.
Secara materi, gangguan kesehatan pada warga Bandung itu belum dihitung. Tetapi, menurut penelitian Bank Dunia, kerugian akibat pencemaran udara dari kegiatan transportasi di Jakarta setiap tahun mencapai sekitar 200 juta-300 juta dollar AS.
"Kalau di Bandung kerugian pencemaran sekitar seperempat dari Kota Jakarta, namun itu toh sudah merugikan masyarakat," kata Dada Rosada, Sekretaris Pemerintah Kota Bandung, mengutip pernyataan pakar lingkungan Otto Sumarwoto dalam acara semiloka pencemaran udara di Bandung,

C. Pemersalahan
Menurut Dada, belakangan ini pencemaran udara di Bandung telah menunjukkan gejala menurun, kendati tetap masih di atas ambang batas ideal. Pencemaran itu diakibatkan naiknya jumlah kendaraan bermotor yang setiap tahun mencatat angka pertumbuhan sekitar 6-12 persen. Data dari kepolisian pada bulan Mei 1999 menunjukkan, jumlah kendaraan mencapai 600.000 unit dengan panjang ruas jalan sekitar 1.071 kilometer. Jumlah kendaraan itu belum termasuk yang masuk ke Bandung setiap akhir pekan, yang diperkirakan sekitar 10-25 persen. Untuk mengatasi pencemaran udara di Kota Bandung, kata Dada, pemerintah kota telah berupaya melakukan pengendalian dan pemulihan. Salah satu upaya yang dilakukan sejak tahun 1996 adalah melaksanakan pengendalian pencemaran udara melalui program
Gas SO2 & NOx dihasilkan dari pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor. SO2 & NOx berperan dalam pembentukan hujan asam dan juga polusi partikel aerosol.

Grafik konsentrasi NOx :




Sumber Polusi Udara Dari Transportasi.
Polusi udara yang disebabkan oleh transportasi darat ternyata bukan hanya emisi
gas CO saja tetapi terdapat emisi lain seperti HC, yang juga menimbulkan dampak terhadap manusia dan lingkungan. Kontribusi dari seluruh polutan yang ada pada kendaraan, yang salah satunya adalah adalah gas Hidro Carbon, seperti terlihat pada tabel 1. dibawah ini :








































Dari gambar diatas menunjukkan bahwa emisi gas HC secara keseluruhan
mengalami penurunan konsentrasi pada setiap variasi putaran. Penurunan konsentrasi HC
setiap perubahan Rpm mengalami fluktuasi yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena
jumlah bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar setiap perubahan Rpm berbedabeda.
Disamping itu campuran bahan bakar yang masuk juga dipengaruhi oleh kondisi
kendaraan uji.
Dari gambar tersebut terlihat bahwa penurunan emisi HC dipengaruhi juga oleh
jumlah sel yang terpasang pada catalytic Converter. Namum pada penambahan katalis 15
sel terlihat bahwa HC cenderung lebih tinggi dari katalis 10 Sel. Ini dapat terjadi akibat
kondisi mesin uji yang bertambah panas dan jumlah bahan bakar yang masuk ke ruang
bakar. Meski demikian. Ada kecenderungan semakin banyak sel penurunan emisi menjadi lebih tinggi
Peningkatan polusi udara erat kaitannya dengan terjadinya hujan asam, khususnya di kota-kota besar. Secara alami hujan asam dapat terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis di tanah, rawa dan laut. Tetapi hujan asam kebanyakan disebabkan oleh aktivitas manusia seperti industri, pembangkit tenaga listrik dan kendaraan bermotor yang akan menghasilkan gas Sulfur Dioksida dan Nitrogen Oksida. Gas – gas ini akan berdifusi ke atmosfer dan bereaksi dengan air membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup. Air hujan disebut hujan asam bila pH air dibawah 5,6.
Peta Lokasi Pengukuran Hujan Asam di Bandung ( Gerakkan kursor untuk mengetahui pH di setiap lokasi )



Sektor Total emisi CO2 (juta ton) Perumbuhan
(% per tahun)
2000 2010 2020 2025
Industri 58 73 109 141 2,4
Rumah tangga 21 23 22 25 0,4
Transportasi 55 76 128 168 3,4
Pembangkit listrik 54 90 220 275 5,1
Industri 40 35 48 63 1,9
Total 228 298 526 672 3,3

Tabel 4.3 Proyeksi emisi CO2 dari sektor-sektor di Indonesia hingga 2025

D. Solusi Pemasalahan

Solusi
Beberapa usaha pemerintah untuk mengurangi tingkat pencemaran udara terutama di kota-kota besar antara lain:
1. Pemberi insentif bagi kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar gas:
a. Keringanan pajak kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar gas berupa PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor). Ref. PERPU. No.21 tahun 1997.
b. Pemberian keringanan pajak untuk bea-impor conversion kit, sehingga harga jualnya dapat ditekan dan terjangkau oleh masyarakat.
c. Peraturan pemerintah yang mewajibkan kepada Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM) untuk memasang Catalytic Converter pada setiap kendaraan baru yang sudah diproduksi.
2. Pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN)
Kebijakan pemerintah untuk percepatan pembuatan BBN antara lain:
a. Peraturan Pemerintah (PP) No.5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional.
b. Instruksi Presiden (Inpres) No.1 tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan BBN.
c. Keputusan Presiden (Keppres) No.10 tahun 2006 tentang Tim Nasional pengembangan BBN untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran.
Solusi BBN untuk transportasi adalah sebagai pengganti/subtitusi solar atau bensin. Untuk solar digunakan bio-diesel, sedangkan untuk bensin digunakan bio-ethanol. Bio-diesel merupakan bentuk ester dari minyak nabati (sawit, minyak kelapa, jarak pagar,dll). Sedangkan bio-ethanol merupakan anhydrous alkohol berasal dari fermentasi tetes/nira tebu, singkong, jagung atau sagu. Berikut skenario kebijakan implementasi BBN:

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN Dan SARAN
Banyak kota-kota besar didunia kualitas udaranya memburuk karena
tercemar oleh; zat-zat pencemar yang sumbernya berasal dari pabrik-pabrik industri,
dan kendaraan bermotor, proses pembakaran,pembuangan limbah padat.zat-zat
pencemar yang paling sering dijumpai adalah: So2, NO dan NO2, Pb, SPM, O3 dan
CO untuk memonitor zat-zat polutan ini, WHO (tahun 1974) telah bekerjasama
dengan global Environment monitoring System (=GEMS) bagian udara. Faktor-faktor
yang mempengaruhi distribusi dan transport zat polutan ini adalah: letak topografi
daerah, intensitas dan pemaparan, arah angin, suhu dan cuaca. Dampak yang paling
utama adalah terhadap kesehatan manusia terutama pada sistem pernapasan,
pembuluh darah, persarafan, hati dan ginjal.

Tingkat polusi udara dari sektor transportasi sudah melebihi baku mutu lingkungan. Sehingga diperlukan kerjasama yang komprehensif dari pemerintah terutama Departemen Perhubungan, masyarakat dan produsen kendaraan bermotor.
Referensi
Pengembangan BBN sebagai Upaya Percepatan Pengurangan Pengangguran dan Kemiskinan presentasi TIM BUMN-ESDM-RISTEK BPPT-DEPTANDEPHUT



DAFTAR PUSTAKA
1. Arismunandar, Wiranto, 1983, Penggerak Mula, Penerbit ITB, Bandung
2. Arya, W. Wisnu, 1999, Dampak Pencemaran Lingkungan, Cetakan Kedua, Pene rbit
Andi Offset, Yogyakarta.
3. Arcadio P. Sincero Sr, Gregoria A. Aincero, 1995, Environmental Engineering A
Design Approach. A Prentice Hall Company, New Jersey.
4. Aryanto A, Razif M, 2000, Study Penggunaan Tembaga ( Cu ) Sebagai Catalytic
Converter Pada Knalpot Sepeda Motor Dua Tak Terhadap Emisi Gas CO ( jurnal ),
Teknik Lingkungan, ITS.
5. Bapedal, 1996, Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara, Semarang.
6. Cahyono A, Razif M, Mursid M, Pengaruh Katalis Oksida Tembaga + Krom Terhadap
Putaran Mesin kendaran Bermotor ( jurnal ),Teknik Lingkungan &Teknik Mesin ITS.
7. Darsono, Valentino, 1995, Pengantar Ilmu Lingkungan, Edisi revisi, Penerbit
UniversitasAirlangga, Yogyakarta.
8. Dirjen Perhubungan Darat, 2000, Program Langit Biru dan Konservasi Energi (Jurnal).
9. Harsanto, 2001, Pencemaran Udara, Pengaruh Serta Cara Penanggulangannya (Jurnal )
10. Heinz Heisler, 1995, Advanced Engine Tecnology Hodder Headline Group,London.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar