CHATBOX

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!
Get your own Chat Box! Go Large!
Indonesian Radio Online
http://www.focus.co.id/images/yahoo-icon.png

04 Februari, 2009

Gempa Bumi Tektonik

Gempa bumi tektonik adalah jenis gempa bumi yang disebabkan oleh pergeseran lempeng plat tektonik. Gempa ini terjadi karena besarnya tenaga yang dihasilkan akibat adanya tekanan antar lempeng batuan dalam perut bumi.[1] Gempa bumi ini adalah jenis gempa yang paling sering dirasakan, terutama di Indonesia.
Penyebab
Gempa tektonik yang kuat sering terjadi di sekitar tapal batas lempengan-lempengan tektonik. Lempengan-lempengan tektonik ini selalu bergerak dan saling mendesak satu sama lain. Pergerakan lempengan-lempengan tektonik ini menyebabkan terjadinya penimbunan energi secara perlahan-lahan. Gempa tektonik kemudian terjadi karena adanya pelepasan energi yang telah lama tertimbun tersebut. Gempa tektonik biasanya jauh lebih kuat getarannya dibandingkan dengan gempa vulkanik, maka getaran gempa yang merusak bangunan kebanyakan disebabkan oleh gempa tektonik. [2] Gempa bumi tektonik merupakan gempa bumi yang paling sering terjadi. Bahkan menurut para ahli gempa, setiap hari terjadi gempa tektonik, namun tidak dirasakan karena getarannya relatif kecil.[3] Lempengan Tektonik
Gempa tektonik terjadi karena lapisan kerak bumi yang keras menjadi lunak dan akhirnya bergerak. Dalam dunia geologi dikenal teori Techtonic Plate alias Lempengan Tektonik yang diciptakan oleh Alfred Wegener. Teori ini memaparkan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Ini disebabkan oleh panas bumi dari pusat bumi. Lapisan tersebut bergerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya, demikian menurut www.olympus.net Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik.
Pada dasarnya permukaan bumi kita terdiri atas 15 lempengan, yakni lempengan Eurasia, Amerika Utara, Australia, karibia, pasifik, Cocos, Juan de Fuca, Filipina, Nazca, Amerika Selatan, Scotia, Arabia, Afrika, India dan Antartika. Daerah yang berdiri pada perbatasan lempengan cenderung berpotensi terkena gempa tektonik. Sebut saja negara seperti Jepang, Filipina atau Amerika Serikat khususnya California yang memang sudah menjadi ”pelanggan” bencana gempa tektonik.
Gempa tektonik juga cenderung diikuti dengan gempa lanjutan di wilayah lain di dunia. Ini disebabkan satu lempengan dengan lempengan saling bertautan, sehingga jika terjadi sedikit saja guncangan atau pergeseran maka akan menyambung ke lempengan lain. Maka tak heran kalau bencana gempa kerap bersifat global alias mendunia.
Bisa diamati, lokasi Iran yang berdekatan dengan Aljazair berada di perbatasan lempengan Arabia dan Eurasia. California, AS sendiri berlokasi di perbatasan lempengan Amerika Utara dengan Juan de Fuca. Sementara daerah Bali dan Lombok berada pada perbatasan lempengan Eurasia dan Australia. Tak heran kalau ketiga tempat tadi diguncang gempa secara bergantian karena memang berada pada lempengan berbeda yang saling berhubungan satu sama lain.

Gempa Vulkanik
Mayoritas gempa bumi dipicu oleh lempengan tektonik. Namun ada pula penyebab lain, yakni akibat dari gejolak atau letusan gunung berapi yang biasa disebut gempa vulkanik Gempa satu ini tergolong lebih jarang dibanding tektonik. Gempa vulkanik terjadi akibat adanya letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Ketika gunung berapi meletus maka getaran dan guncangan letusannya bisa menjangkau hingga 20 mil.
Berdasar data yang dicatat www.eSmartSchool.com, gempa vulkanik terbesar di Indonesia adalah ketika terjadi letusan gunung Krakatau pada tahun 1883. Letusan ini menyebabkan goncangan dan bunyi yang terdengar sampai sejauh 5.000 kilometer. Letusan tersebut juga menyebabkan adanya gelombang pasang tsunami setinggi 36 meter dilautan dan letusan ini memakan korban jiwa sekitar 36.000 orang.
Kedua jenis gempa kekuatannya diukur dengan menggunakan satuan skala Richter yang mengukur magnitud gempa berdasarkan ketinggian gelombang dengan alat bernama seismograf. Area di bawah permukaan bumi tempat gempa berasal disebut sebagai fokus. Kinerja pengukuran dimulai saat gelombang melampaui fokus. Para ilmuwan seismologi mengenal beberapa tipe gelombang laut yang disebabkan oleh gempa, yakni gelompang primer (P) dan sekunder (S). Gelombang P adalah gelombang longitudinal yang mendorong dengan kekuatan penuh ke seantero muka bumi. Sementara gelombang S merupakan gelombang yang bergejolak, gelombang ini juga menyebar ke muka bumi namun tidak berpenetrasi dengan cairan.
Semua gelombang gempa ini direkam pada seismograf. Saat gelombang S menyebar lebih lambat dari gelombang P maka bisa diketahui sejauh mana gempa melanda dengan menggunakan komputer. Makin banyak seismograf yang dipasang pada lokasi berbeda makin akurat kalkulasi yang didapat oleh para ilmuwan ihwal gempa yang terjadi.
Semua angka yang didapat dinyatakan dalam satuan skala Richter (SR), yaitu ketinggian gelombang yang direkan seismograf. Kakuatan gempa hingga 2,5 SR tergolong lemah, hampir tak terasa. Jika mencapai 6 SR tergolong besar dan menyebabkan kerusakan parah. Gempa terparah dan memicu kerusakan luar biasa masuk kategori di atas 8 SR.

Indonesia Berada di Empat Lempengan Tektonik Aktif
YOGYAKARTA - Indonesia terletak di empat lempengan tektonik aktif, yakni lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina, yang tepatnya berada di wilayah utara Kepulauan Halmahera dan bagian timur Kalimantan Timur. Keempat lempengan itu saling bertumbukan (mendorong), sehingga wajar bila di Indonesia sering dilanda gempa bumi.
Hal itu dikatakan pakar gempa dari UGM Yogyakarta, Dr Dwikorita Karnawati MSc yang juga Ketua Jurusan Teknik Geologi UGM Yogyakarta, kepada wartawan Senin (24/7).
Menurut Dwikorita, tumbukan keempat lempengan itu telah terjadi sejak ratusan tahun lalu, hanya aktivitasnya akhir-akhir ini semakin meningkat.
''Sebelum tahun 2000, aktivitas gempa jarang terjadi dan agak tenang, karena baru mengumpulkan tenaga. Sekarang setelah tenaga itu terkumpul maka dilepaskan sebagai gempa,'' ujarnya.
Dikatakan pakar gempa tersebut, gempa yang terakhir dirasakan terjadi di Bali maupun Minahasa baru-baru ini, karena Indonesia terletak di empat lempengan aktif tersebut. Karena itu, dia memastikan masih akan terjadi gempa-gempa berikutnya.
Bisa saja terjadi di wilayah yang sudah dilanda gempa, dan bisa melanda daerah lain. Hanya, kalau terjadi di wilayah yang sudah dilanda gempa maka skalanya akan lebih kecil atau tak sebesar yang terdahulu.
Biasanya, lanjut Dwikorita, bila sudah terjadi gempa beruntun, selanjutnya gempa-gempa itu akan mereda. Karena patahan itu seolah sedang mengumpulkan energi, yang setelah terkumpul barulah akan menjadi gempa besar.
Ketika ditanya mengenai isu-isu Jakarta bakal dilanda gempa besar, dikatakan bahwa mungkin saja gempa akan melanda Jakarta. Tetapi pusat gempanya tidak terjadi di Jakarta, melainkan di wilayah selatan atau Samudera Hindia. ''Dengan demikian, Jakarta hanya akan terkena imbasnya,'' tambahnya. (P12-36d)
Fenomena Tektonik
Tsunami bukan sesuatu yang baru di muka bumi dan bukan pula sebagai sesuatu yang jarang terjadi. Benua bumi yang terbentuk atas lempengan-lempengan yang bebas satu sama lain dan bergerak secara dinamik. Pergerakan dinamik lempengan satu atas lempengan lain tentu akan menyebabkan pergeseran yang luar biasa. Pergeseran lempengan di lautan dalam sebagai bentuk perubahan energi dari energi potensial ke energi kinetik, juga akan terambatkan ke media lain yaitu air lautan.
Fenomena Gelombang
Di lautan dalam transmisi energi berupa riak yang akan menyebar ke seluruh permukaan lautan di bumi. Di titik awal terbentuknya gelombang tsunami - tinggi gelombang mungkin hanya dalam order centimeter, tapi begitu mendekati pantai yang dangkal (apalagi landai) tinggi gelombang laut akan berubah menjadi puluhan meter ~ inilah yang mengerikan. Perubahan tinggi gelombang memang dipengaruhi oleh kedalaman laut, semakin dalam lautan semakin pendek tinggi gelombang. Alam telah menyediakan berbagai sarana dalam mengurangi kehancuran karena gelombang akibat pregeseran tektonik seperti pulau-pulau karang yang tersebar di seluruh lautan, juga terumbu-terumbu karang yang mengurangi kelandaian suatu pantai, dan juga kelebatan hutan bakau di berbagai pantai. Sayang bahwa manusia ikut menghancurkannya. Seringkali juga pantai-pantai yang tidak menghadap langsung dengan titik pergeseran juga mengalami disaster ini karena fenomena gelombang seperti difraksi mengambil peran disini.
Berikut adalah simulasi transmisi gelombang yang terjadi pada pergerakan tektonik baru-baru ini di Aceh. Dari simulasi ini tidak heran bahwa India dan Srilanka juga mengalami musibah yang besar, karena berhadapan tegak lurus dan relatif terbuka (dan tentunya juga karena kepadatan penduduk yang tinggi). Pantai-pantai di Thailand terproteksi dengan ribuan pulau-pulau kecil, Pantai Padang terlindungi oleh Pulau Sumatra. Pantai Timur Aceh mengalami musibah juga karena pengaruh difraksi gelombang. Simulasi ini didapatkan dari suatu website di Jepang yang saya dapatkan dari mailing list tentang GPS.
Fenomena ini sudah bisa diformulasi dengan baik secara matematis, dan buat kita-kita yang belajar di Teknik Fisika tentu pernah mendapat kuliah Fenomena Gelombang (dari Pak Andriyanto) yang salah satu tugas yang diberikan oleh beliau adalah menerangkan apa syarat untuk mendapatkan daerah yang baik untuk surfing. Untuk mengetahui efek kedalaman suatu lautan terhadap tinggi gelombang dapat dilihat pada formulasi matematikanya, tapi untuk memudahkan anda dapat mensimulasikan ini dengan menggunakan applet Java yang bisa diakses dari website ini

Early Warning System
Bencana ini bisa terjadi di setiap penjuru dunia, dan melihat kenyataan bahwa sebagian besar bumi adalah lautan dan terdiri atas lempengan tektonik yang selalu bergeser, maka bukan hal luarbiasa bahwa musibah ini bisa terjadi kapan saja. Kejadian seperti ini tidak bisa dihindari, sehingga cara yang paling baik adalah dengan mengetahui kejadian seawal mungkin. Perlu ada waktu untuk gelombang dari titik terjadinya pergeseran untuk mencapai pantai. Seperti yang sudah diramalkan lewat formulasi matematis, perhitungannya tidak sesederhana dengan menggunakan formulasi kecepatan gelombang pada suatu media, karena kecepatan gelombang bisa bervariasi dari 500 km/jam sampai 10 km/jam tergantung dari kedalaman lautan. Semakin mendekati pantai akan semakin lambat (tapi dengan gelombang yang jauh lebih tinggi). Early Warning System akhirnya menjadi andalan. Titik gempa biasanya jauh lebih cepat diperkirakan, sehingga kuncinya adalah membuat suatu system yang bisa mengkomunikasi warning itu dengan akurat dan cepat. Negara-negara yang sering mengalami kejadian ini (terutama di Rim Pacific) sudah mempunyai early warning system ~ sensor utama mereka adalah sensor gempa (bukan sesuatu yang luar biasa high tech), tapi yang luar biasa adalah system yang bisa memberikan komunikasi dengan cepat ke pantai-pantai yang mungkin bisa kena. Negara-negara di Pacific Rim (Jepang, USA dll.) sudah memiliki badan yang bertanggung jawab atas ini. Negara Indonesia mungkin sudah punya BMG yang bisa mendeteksi pergeseran tektonik (besar dan letaknya), dan tentu bisa memprediksi kapan gelombang akan mencapai pantai ~ tapi kemampuan mengkomunikasi sampai ke titik terendah di lapangan tentu masih rendah.
Kontrol atas Resiko suatu Musibah
Resiko suatu musibah biasanya berbanding terbalik dengan kesiapan kita atas musibah itu. Kesiapan itu meliputi kesiapan atas rencana, metoda, prosedur dan aksi yang harus dilakukan oleh pemerintah ataupun masyarakat sendiri (teman-teman yang bekerja di industri yang penuh dengan resiko seperti industri minyak - pasti mengenal baik tentang kesiapan atas suatu musibah yang sering terjadi: rencana yang rapi, latihan yang sering dilakukan dll.) Salah satu bentuk kesiapan atas musibah itu adalah pengetahuan atas musibah sendiri ~ untuk kasus Tsunami tentu harus tahu titik-titik dengan potensial pergeseran, tahu daerah-daerah yang mungkin terbabas oleh tsunami dan masyarakat (dan juga petugas) harus tahu Early Warning System apa yang ada. Saya yakin data BMG sudah cukup sebagai early warning yaitu mengetahui titik gempa dan besar gempa. Sistem komunikasi, pengetahuan dan latihanlah yang perlu ditingkatkan. Sekali lagi, saya lebih condong untuk tidak menggunakan approach high-tech dengan segala macam sensor harus dideploy, pendekatan secara sosial (manusia) kadang yang malah perlu dipikirkan dengan matang dan manajemen atas resiko yang perlu didorong. Semoga musibah ini bisa menjadi pelajaran buat bangsa Indonesia (terutama pemerintahnya) untuk menyiapkan diri atas suatu bencana. Dan semoga jangan didekati dengan gaya engineer dengan deploy segala macam peralatan. Kita bisa belajar dari kearifan orang-orang tradisional dulu yang tinggal di lereng gunung berapi yang sensitive membaca perubahan alam seperti perubahan perilaku binatang dan gaya komunikasi sederhana (tapi efektif) seperti kenthongan yang saling bersahut-sahutan.
Last Updated ( Saturday, 15 January 2005 )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar