CHATBOX

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!
Get your own Chat Box! Go Large!
Indonesian Radio Online
http://www.focus.co.id/images/yahoo-icon.png

02 Februari, 2009

Pencemaran Lingkungan

Pencemaran udara

Pencemaran Udara Ancam IQ Anak
Jakarta, Sinar Harapan
Kota besar seperti Jakarta bukan lagi tempat yang sehat untuk membesarkan anak. Setiap hari seorang anak harus menghirup asap hitam knalpot kendaraan umum. Selain pelbagai penyakit infeksi saluran pernapasan (ISPA), ada yang lebih mengancam anak-anak kita, yakni menderita penurunan Intelligent Quotient (IQ) otak.
”Pengaruhnya tidak langsung dirasakan oleh anak, melainkan berlangsung sejak dalam kandungan. Kandungan zat berbahaya seperti logam berat pada emisi kendaraan akan terhisap oleh si ibu, dan mengalir melalui darah menembus ari-ari sebagai barrier.
Semua kandungan logam berat tadi mengganggu pertumbuhan dan fungsi otak ketika janin itu dilahirkan,” jelas Dr. Monang Tampubolon, spesialis kesehatan anak dan dosen Fakultas Kedokteran Ukrida saat dihubungi di Jakarta, Kamis (3/4).
Dari air susu ibu (ASI), polutan berbahaya dapat pula ”mencemari” otak bayi. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) DKI Jakarta sempat mengadakan studi pada 2001 yang menyatakan bahwa ibu-ibu di pinggiran kota memiliki ASI berkadar timbel 10 -30 ug per kilogram.
Kadar ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pedesaan, yakni satu sampai dua ug per kilogram. Polutan timbel yang terdapat dalam solar mampu memicu gangguan kesehatan kaum perempuan dan balita. Ion-ion timbel ini berimbas pada perkembangan sel-sel otak balita.
Sebagian besar kendaraan bermotor di kota-kota besar masih menggunakan bahan bakar fosil seperti hidrogen (H) dan karbon (C). Hasil pembakarannya memunculkan senyawa Hidro Karbon (HC), karbon monoksida (CO), karbon dioksida (Co2) juga Nox. Namun akibat menghemat, banyak kendaraan yang masih menggunakan solar sebagai bahan bakar. Solar menghasilkan senyawa berbahaya, timbel alias plumbum (Pb).
Polutan inilah yang menjadi pemicu gangguan fungsi otak yang utama. CO lebih menyerang ke anak-anak dan orang dewasa secara langsung, yakni menyebabkan kepala pusing, pandangan menjadi kabur, bahkan bisa pingsan dan kehilangan koordinasi saraf. Di luar ancaman penurunan tingkat kecerdasan, polusi udara juga memicu bronkitis, pneumonia, asma serta gangguan fungsi paru.

Angka Kematian Tinggi
Bukan janin dalam kandungan saja yang ikut terancam kehilangan kualitas kecerdasan, tapi juga anak-anak dalam masa tumbuh kembang. Timbel alias timah hitam ikut mencemari sayur dan buah-buahan yang dikonsumsi anak-anak. Beberapa tahun yang lalu United Nations Environmental Programme (UNEP) telah menempatkan Jakarta sebagai kota terpolusi nomor tiga di dunia setelah Meksiko dan Bangkok. Bisa dibayangkan betapa parahnya ancaman polutan emisi gas buang di metropolitan ini.
Padahal tanpa harus berhadapan dengan fakta tersebut, anak Indonesia sudah tergolong lemah dan memiliki angka kematian tinggi. Berdasar catatan UNICEF, laju tingkat kematian anak Indonesia termasuk tinggi dibanding negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Sebagai perbandingan, tahun 1997 tingkat kematian anak di Jakarta mencapai 28, di Kalimantan 67, di NTB mencapai angkat 81 perseribu kelahiran. Sedangkan di Thailand hanya 30, dan Malaysia hanya sembilan.
Menurut Monang, mayoritas anak Indonesia lebih rentan terserang penyakit dibanding dengan anak dari negara lain. Ini tak lain dipicu masalah kurang gizi yang sejak lama menjadi kendala utama pembangunan bangsa.
Departemen Kesehatan (Depkes) mencatat bahwa pada 1999 ada sekitar delapan persen anak Indonesia kekurangan gizi. Ini artinya ada sekitar 1,8 juta anak balita di seantero Indonesia menderita malnutrisi. Namun realitas yang ada di lapangan bisa lebih dari itu.
”Walaupun gizi masih menjadi masalah utama anak Indonesia, pada akhirnya penyakit yang timbul akibat pencemaran udara akan menjadi parah pula,” tutur dokter yang membuka praktik di bilangan Kalibata ini. Keduanya sama-sama berdampak buruk, yakni merosotnya tingkat IQ.
Di Jakarta dan kota besar lain masalah gizi bisa jadi tidak separah di daerah. Selaras dengan itu, kualitas kecerdasan mereka yang mendapat asupan gizi cukup akan membaik juga. Namun di banyak daerah kekurangan gizi, perkembangan otaknya terhambat. Maka Monang tidak heran kalau pelajar yang berhasil tembus perguruan tinggi negeri lebih banyak berasal dari kota besar di mana kebutuhan gizinya terpenuhi.
Hal lain yang patut dicermati adalah polusi udara akibat asap rokok. Monang berpendapat bahwa hingga saat ini belum ada penelitian apakah asap rokok termasuk zat berbahaya bagi otak anak. Yang jelas, ibu hamil yang menghisap rokok bisa berakibat fatal terhadap janin yang dikandungnya.
Pembuluh darah sang ibu akan mengecil sehingga suplai darah ke calon bayi terhalang. Akan banyak dampak yang diderita bayi di samping sekadar pertumbuhan badan yang terlambat, namun juga kemampuan mentalnya.
”Gizi memang masih menjadi faktor utama perkembangan otak. Tapi kita juga jangan meremehkan faktor lain seperti polusi udara,” ujar Monang. Dan yang memprihatinbkan, kendati polusi udara di Indonesia tergolong tinggi, tidak ada satu pun ahli kesehatan udara yang tersedia. Bahkan bidang studinya pun belum tersedia di semua perguruan tinggi. Padahal, menurut Monang, di banyak negara maju kehadiran seorang dokter ahli kesehatan udara sangat diperlukan dalam pembangunan proyek-proyek gedung di kota besar. (mer)
Sumber Pencemaran Udara
Secara umum terdapat 2 sumber pencemaran udara yaitu pencemaran akibat sumber alamiah (natural sources), seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari kegiatan manusia (aniropogenic sources), seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Di dunia dikenal zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia yaitu :
• Karbon monoksida (CO),
• Oksida. Sulfur (SOx),
• Nitrogen Oksida(NOx),
• Partikulat, Hidrokarbon (HC)
• Gas rumah Kaca (CH4, CO2 dan N2O)
Di Indonesia sekarang ini kurang lebih 70% pencemaran udara di sebabkan emisi kendaraan bermotor kendaraan bermotor mengeluarkan. zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak. negative, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb) Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal.

Teknologi Penanggulangan Emisi dari Kendaraan

Secara sekilas teknologi penanggulangan emisi dari mesin dapat dikategorikan menjadi dua bagian besar yaitu Pengurangan emisi metoda primer dan Pengurangan emisi metoda sekunder [6]. Untuk pengurangan emisi metoda primer adalah sebagai berikut:

Berdasarkan bahan bakar :
• Penggunaan bahan bakar yang rendah Nitrogen dan Sulfur termasuk penggunaan non fossil fuel
• Penggalangan penggunaan Non Petroleum Liquid Fuels
• Penggunaan angka cetan yang tinggi bagi motor diesel dan angka oktan bagi motor bensin
• Penggunaan bahan bakar Gas
• Penerapan teknologi emulsifikasi (pencampuran bahan bakar dengan air atau lainnya)
Berdasarkan Perlakuan Udara :
• Penggunaan teknologi Exhaust Gas Recirculation (EGR)
• Pengaturan temperature udara yang masuk pada motor
• Humidifikasi
Berdasarkan Proses Pembakaran :
• Modifikasi pada pompa bahan bakar dan sistem injeksi bahan bakar
• Pengaturan waktu injeksi bahan bakar
• Pengaturan ukuran droplet dari bahan bakar yang diinjeksikan
• Injeksi langsung air ke dalam ruang pembakaran
Sementara itu pengurangan emisi metoda sekunder adalah :
• Penggunaan Selective Catalytic Reduction (SCR)
• Penerapan teknologi Sea Water Scrubber untuk aplikasi di kapal
• Penggunaan katalis magnet yang dipasang pada pipa bahan bakar
• Penggunaan katalis pada pipa gas buang kendaraan bermotor










andi
Pencemaran udara

1. Umum

Tulisan ini mengetengahkan sekilas pandang mengenai pencemaran udara. pengertian, pengaruhnya terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan manusia serta teknologi terbaru untuk menguranginya. Semakin pesatnya kemajuan ekonomi mendorong semakin bertambahnya kebutuhan akan transportasi, dilain sisi lingkungan alam yang mendukung hajat hidup manusia semakin terancam kualitasnya, efek negatif pencemaran udara kepada kehidupan manusia kian hari kian bertambah. Untuk itulah tulisan singkat ini dipersembahkan sebagai bahan awal untuk melangkah menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan pada kesehatan manusia secara umum serta menurunkan kualitas lingkungan. Pencemaran udara dapat terjadi dimana-mana, misalnya di dalam rumah, sekolah, dan kantor. Pencemaran ini sering disebut pencemaran dalam ruangan (indoor pollution). Sementara itu pencemaran di luar ruangan (outdoor pollution) berasal dari emisi kendaraan bermotor, industri, perkapalan, dan proses alami oleh makhluk hidup. Sumber pencemar udara dapat diklasifikasikan menjadi sumber diam dan sumber bergerak. Sumber diam terdiri dari pembangkit listrik, industri dan rumah tangga. Sedangkan sumber bergerak adalah aktifitas lalu lintas kendaraan bermotor dan tranportasi laut. Dari data BPS tahun 1999, di beberapa propinsi terutama di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya dan Jakarta, emisi kendaraan bermotor merupakan kontribusi terbesar terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya lebih dari 50%. Penurunan kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kita bahwa betapa pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan emisi ini. Baik melalui penyuluhan kepada masyarakat ataupun dengan mengadakan penelitian bagi penerapan teknologi pengurangan emisi.

2. Zat-zat Pencemar Udara

Emisi Karbon Monoksida (CO)
Asap kendaraan merupakan sumber utama bagi karbon monoksida di berbagai perkotaan. Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran udara di Jakarta disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum yang berbahan bakar solar terutama berasal dari Metromini [5]. Formasi CO merupakan fungsi dari rasio kebutuhan udara dan bahan bakar dalam proses pembakaran di dalam ruang bakar mesin diesel. Percampuran yang baik antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO. Karbon monoksida yang meningkat di berbagai perkotaan dapat mengakibatkan turunnya berat janin dan meningkatkan jumlah kematian bayi serta kerusakan otak. Karena itu strategi penurunan kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti pengggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi kendaraan bermotor

Nitrogen Oksida (NOx)
Sampai tahun 1999 NOx yang berasal dari alat transportasi laut di Jepang menyumbangkan 38% dari total emisi NOx (25.000 ton/tahun) [4]. NOx terbentuk atas tiga fungsi yaitu Suhu (T), Waktu Reaksi (t), dan konsentrasi Oksigen (O2), NOx = f (T, t, O2). Secara teoritis ada 3 teori yang mengemukakan terbentuknya NOx, yaitu:

1. Thermal NOx (Extended Zeldovich Mechanism)

Proses ini disebabkan gas nitrogen yang beroksidasi pada suhu tinggi pada ruang bakar (>1800 K). Thermal NOx ini didominasi oleh emisi NO (NOx = NO + NO2).
2. Prompt NOx

Formasi NOx ini akan terbentuk cepat pada zona pembakaran.
3. Fuel NOx

NOx formasi ini terbentuk karena kandungan N dalam bahan bakar.

Kira-kira 90% dari emisi NOx adalah disebabkan proses thermal NOx, dan tercatat bahwa dengan penggunaan HFO (Heavy Fuel Oil), bahan bakar yang biasa digunakan di kapal, menyumbangkan emisi NOx sebesar 20-30%. Nitrogen oksida yang ada di udara yang dihirup oleh manusia dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. Setelah bereaksi dengan atmosfir zat ini membentuk partikel-partikel nitrat yang amat halus yang dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Selain itu zat oksida ini jika bereaksi dengan asap bensin yang tidak terbakar dengan sempurna dan zat hidrokarbon lain akan membentuk ozon rendah atau smog kabut berawan coklat kemerahan yang menyelimuti sebagian besar kota di dunia.

SOx (Sulfur Oxide : SO2, SO3)
Emisi SOx terbentuk dari fungsi kandungan sulfur dalam bahan bakar, selain itu kandungan sulfur dalam pelumas, juga menjadi penyebab terbentuknya SOx emisi. Struktur sulfur terbentuk pada ikatan aromatic dan alkyl. Dalam proses pembakaran sulfur dioxide dan sulfur trioxide terbentuk dari reaksi:

S + O2 = SO2
SO2 + 1/2 O2 = SO3

Kandungan SO3 dalam SOx sangat kecil sekali yaitu sekitar 1-5%. Gas yang berbau tajam tapi tidak berwarna ini dapat menimbulkan serangan asma, gas ini pun jika bereaksi di atmosfir akan membentuk zat asam. Badan WHO PBB menyatakan bahwa pada tahun 1987 jumlah sulfur dioksida di udara telah mencapai ambang batas yg ditetapkan oleh WHO.

Emisi HydroCarbon (HC)
Pada mesin, emisi Hidrokarbon (HC) terbentuk dari bermacam-macam sumber. Tidak terbakarnya bahan bakar secara sempurna, tidak terbakarnya minyak pelumas silinder adalah salah satu penyebab munculnya emisi HC. Emisi HC pada bahan bakar HFO yang biasa digunakan pada mesin-mesin diesel besar akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan mesin diesel yang berbahan bakar Diesel Oil (DO). Emisi HC ini berbentuk gas methan (CH4). Jenis emisi ini dapat menyebabkan leukemia dan kanker.
Partikulat Matter (PM)
Partikel debu dalam emisi gas buang terdiri dari bermacam-macam komponen. Bukan hanya berbentuk padatan tapi juga berbentuk cairan yang mengendap dalam partikel debu. Pada proses pembakaran debu terbentuk dari pemecahan unsur hidrokarbon dan proses oksidasi setelahnya. Dalam debu tersebut terkandung debu sendiri dan beberapa kandungan metal oksida. Dalam proses ekspansi selanjutnya di atmosfir, kandungan metal dan debu tersebut membentuk partikulat. Beberapa unsur kandungan partikulat adalah karbon, SOF (Soluble Organic Fraction), debu, SO4, dan H2O. Sebagian benda partikulat keluar dari cerobong pabrik sebagai asap hitam tebal, tetapi yang paling berbahaya adalah butiran-butiran halus sehingga dapat menembus bagian terdalam paru-paru. Diketahui juga bahwa di beberapa kota besar di dunia perubahan menjadi partikel sulfat di atmosfir banyak disebabkan karena proses oksida oleh molekul sulfur.

3. Efek Negatif Pencemaran Udara Bagi Kesehatan Tubuh

Tabel 1 menjelaskan tentang pengaruh pencemaran udara terhadap makhluk hidup. Rentang nilai menunjukkan batasan kategori daerah sesuai tingkat kesehatan untuk dihuni oleh manusia. Karbon monoksida, nitrogen, ozon, sulfur dioksida dan partikulat matter adalah beberapa parameter polusi udara yang dominan dihasilkan oleh sumber pencemar. Dari pantauan lain diketahui bahwa dari beberapa kota yang diketahui masuk dalam kategori tidak sehat berdasarkan ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) adalah Jakarta (26 titik), Semarang (1 titik), Surabaya (3 titik), Bandung (1 titik), Medan (6 titik), Pontianak (16 titik), Palangkaraya (4 titik), dan Pekan Baru (14 titik). Satu lokasi di Jakarta yang diketahui merupakan daerah kategori sangat tidak sehat berdasarkan pantauan lapangan [1].
4. Akhir

Melihat kenyataan seperti dituliskan diatas, polusi udara merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan peningkatan ekonomi transportasi. Uji kelayakan emisi yang sejak beberapa tahun terakhir didengung-dengungkan oleh pemerintah dan LSM ternyata juga tidak berjalan dengan yang diharapkan. Jumlah kendaraan bermotor di jalan raya kian hari semakin meningkat. Di wilayah DKI Jakarta pertambahan kendaraan tercatat 8.74% per tahun sementara prasarana jalan meningkat 6.28% per tahun [3], menambah semakin terpuruknya kondisi lingkungan udara kita.

Penulis berharap semoga dengan kenaikan harga pokok bahan bakar minyak bagi kendaraan yang ditetapkan pemerintah dapat menjadi salah satu momentum bagi kita semua untuk melangkah berpikir tentang lingkungan udara yang sehat. Kesadaran masyarakat akan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan didukung dengan penyediaan angkutan massal yang baik dan nyaman oleh pemerintah akan menciptakan lingkungan udara yang sehat bagi manusia Indonesia.








































| pencemaran air

Orang Miskin Minum Air Tercemar
Masyarakat miskin di perkotaan terpaksa mengkonsumsi air tercemar karena kesulitan mendapatkan air bersih. Penderitaan mereka itu terus berlanjut sampai tahun 2025 ketika Surabaya diprediksikan akan mengalami defisit air bersih.

Jadi orang miskin di Indonesia benar-benar ngenes !

Mahmud (40), tinggal di rumah semi permanen bantaran sungai Kali Surabaya bersama istri dan dua orang anaknya selama puluhan tahun lamanya. Ia bukanlah penduduk asli Surabaya, melainkan seorang pendatang dari desa yang tinggal tanpa identitas kependudukan resmi.

Pekerjaannya pun tidaklah tetap. Kadangkala ia bekerja sebagai pemulung sampah, bahkan sesekali ia menjadi kuli bangunan. Penghasilannya pun hanya Rp 10.000,- per harinya. Sedangkan istrinya tidak bekerja.

Di Surabaya, ia sangat bergantung pada air sungai Kali Surabaya, yang akhir-akhir ini mendapatkan perhatian dari semua pihak setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana mengeluarkan fatwa haram mengkonsumsi Kali Surabaya lantaran telah tercemar, baik itu limbah industri, rumah tangga, maupun bangkai sisa satwa peliharaan.

Kali Surabaya merupakan sungai lintas Kota /kabupaten yang melalui wilayah 4 kota/kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya. Sungai sepanjang kurang lebih 41 Km ini memiliki 3 anak sungai, Kali Marmoyo, Kali Tengah dan Kali Pelayaran. Kali Surabaya memiliki peran penting bagi Surabaya karena 95% bahan baku PDAM Kota Surabaya diambil dari Kali Surabaya


Berdasarkan Kajian Menteri Pekerjaan umum dan Perum Jasa Tirta pada tahun 1999 Surabaya dalam River Pollution Control Action Plan Study menunjukkan Selain limbah industri Kali Surabaya harus menampung beban pencemaran domestik di sepanjang kali Surabaya sebesar 75,5 ton/hari, dengan rincian Mojokerto 14,84 ton/hari, Sidoarjo 26,00 ton/hari, Gresik 0,93 ton/hari dan Surabaya 33,73 ton/hari.

Akibat adanya limbah itu, beberapa riset menyimpulkan bahwa Kali Surabaya sudah tercemar E-Coli. Salah satunya, penelitian Kementrian Lingkungan Hidup tentang pemantauan Terpadu Kualitas Air Sungai di Jawa Timur 2005 menunjukkan bahwa Bakteri E-Coli di dua daerah sepanjang Kali Surabaya (Karang Pilang dan Ngagel/jagir mencapai 64000 sel bakteri/100 ml , sedangkan di intake Kali Pelayaran E-Coli di air mencapai 20000 sel bakteri/100 ml).

Sedangkan peneliti salah satu NGO Lingkungan, Dhani Arnanta menunjukkan bahwa kandungan e coli di badan air Kali Surabaya sebanyak 11. milyar – 1600. milyar sel bakteri/100 ml contoh air.

Padahal sebagai bahan baku air minum jumlah E-Coli dalam air tidak boleh melebihi 1000 sel bakteri/100 ml contoh air menurut PP 82/2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.

Tingginya tingkat pencemaran di Kali Surabaya memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas kesehatan masyarakat yang tinggal di sepanjang Bantaran Kali Mas, Data RSUD Dr Soetomo menyebutkan 2-4% penduduk yang terdiri dari anak-anak (0 – 18 tahun) mengidap kanker, 59% adalah kanker leukimia, Neuroblastoma (Kanker syaraf), Limfoma (Kanker kelenjar getah Bening), dan Tumor Wilms (Kanker ginjal).

Tetapi, Mahmud tidak peduli dengan semua itu. Di sungai inilah, Mahmud tidak hanya mandi, melainkan air sungai juga dipakai untuk memasak dan minum.

"Biarpun tercemar saya tetap akan tinggal disini. Kalau saya beli air bersih seharga Rp 5 ribu per hari saya tidak mampu karena penghasilan yang minim, " katanya.

Mahmud, bukanlah satu-satunya warga miskin di Surabaya yang sulit mendapatkan air bersih karena kondisi ekonomi. Ada ratusan warga miskin lainnya yang belum mendapatkan air bersih juga masalah serupa.

Di Jawa Timur, berdasarkan data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, menyatakan hanya 2,6 persen dari jumlah penduduk sebesar 29,2 juta jiwa yang memperoleh air bersih dari jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Dari jumlah tersebut, air bersih hanya didapatkan oleh mayoritas warga di perkotaan seperti Malang, Surabaya Sidoarjo, Mojokerto dan beberapa lainnya. Meskipun demikian, bukan berarti semua warga yang tinggal di perkotaan mendapatkan air bersih.

Sedangkan khusus di daerah yang tidak terjangkau layanan PDAM itu, seperti di Blitar, Ngawi, Gresik, Kediri, Kabupaten Malang dan beberapa daerah lainnya, masyarakat mendapatkan air bersih dari sumur galian, air sungai dan mata air.

Di daerah tertentu, misalnya di Kecamatan Kedung Kandang Kabupaten Malang, sebelum dibangun sumur air oleh Institut Tehnologi 10 November Surabaya (ITS), warga harus mengeluarkan uang untuk membeli air bersih dengan harga Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per bulannya.

Warga di Kedung Kandang itu tidak mendapatkan air bersih selama bertahun-tahun karena ketidakmampuan tehnis untuk melakukan pengeboran sumur. Namun setelah dibangun instalasi air sumur oleh ITS tahun 2007, kini warga bisa mendapatkan air bersih dengan harga yang lebih murah, yaitu Rp 20 ribu per bulannya.

Demikian pula di beberapa tempat lainnya, seperti di Kecamatan Nglegok Blitar, ratusan penduduk di beberapa desa areal perkebunan tersebut juga telah menikmati air bersih dengan biaya murah setelah dibangun sarana air sumur. Sebelumnya warga di wilayah tersebut harus berjalan ratusan kilometer untuk mendapatkan air bersih.

Berdasarkan data dari PDAM, pada tahun 2005, dengan jumlah penduduk di Surabaya sebesar lebih dari 2,6 juta jiwa, rasio cakupan pelayanan air bersih mencapai 68 persen. Itu atinya sisa rasio penduduk, hingga saat ini belumlah mendapatkan pelayanan air bersih.

Ada beberapa faktor yang membuat mereka belum terlayani memperoleh air bersih PDAM. Selain karena faktor tidak sebandingnya jumlah pertambahan penduduk, baik itu karena tingginya angka kelahiran dan urbanisasi, dengan jumlah sarana dan prasarana penyaluran air minum, misalnya pipanisasi.

Ketidakmampuan warga miskin untuk membeli air bersih juga menjadi penyebab utama. Faktor lain yang juga dominan adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan lingkungan yang sehat.

Kepala Unit Pengkajian Pengembangan Potensi Daerah ITS Surabaya, Agnes Tuti Rumiati mengatakan berdasarkan survei pihak yang belum terlayani air bersih itu memang mayoritas berasal dari masyarakat miskin yang tidak mampu membayar biaya pemasangan air bersih dan biaya bulanan berlangganan.

Masyarakat miskin di perkotaan, kata Agnes, harus membayar harga yang mahal untuk mendapatkan air bersih dibandingkan dengan warga lainnya.

"Dengan pendapatan yang tidak menentu, mereka memilih mengeluarkan uang Rp 5000,- per hari untuk membeli air, daripada berlangganan air bersih dari PDAM yang tarifnya Rp 100.000,- per bulan, " katanya kepada The Jakarta Post.

Untuk meringankan beban masyarakat miskin memperoleh air bersih, World Bank memberikan bantuan kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan air bersih dengan biaya murah.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Delta Tirta Sidoarjo, Abdul Basit Lao mengatakan untuk tahap awal bantuan itu akan diberikan kepada 200 warga miskin di kelurahan Lemah Putro Sidoarjo.

"Warga miskin di tempat itu akan hanya membayar tarif untuk air bersih sebesar Rp 25 ribu atau lebih murah dibandingkan dengan tarif normal sebesar Rp 100 ribu per bulannya, " katanya.

Tarif baru PDAM bagi masyarakat miskin itu, kata Abdul, merupakan kerjasama antara World Bank dengan PDAM, dimana World Bank menyiapkan jaringan pipa dan segala infrastruktur sedangkan PDAM yang mensuplai air bersih tersebut.

Anggota Badan Pendukung Pengembangan Sistem Air Minum Departemen Pekerjaan Umum Budi Sutjahjo mengatakan untuk di daerah pedesaan, pemerintah pada tahun 2009 mentargetkan akan menambah jaringan pipanisasi air minum, sehingga 27,3 juta jiwa masyarakat di pedesaan di Indonesia dapat memperoleh air bersih. Sampai saat ini, hanya 7 juta jiwa saja masyarakat di desa yang telah menikmati air bersih.

Selain itu, pemerintah juga akan menambah jumlah pemakai di perkotaan yang saat ini mencapai 38,7 juta jiwa menjadi 45,8 juta jiwa pada tahun 2009. Sehingga secara nasional pada tahun 2009, sekitar 73,5 juta jiwa dapat memperoleh layanan air bersih.

Akan tetapi muncul tantangan baru dimana tahun 2025 mendatang, seiring dengan pesatnya laju pertambahan penduduk di Surabaya warga miskin semakin sulit mendapatkan air minum. Mereka akan kembali minum air beracun seperti yang dilakukannya saat ini.

Mengapa ?

Perum Jasa Tirta memprediksi pada tahun 2025, Surabaya akan mengalami defisit air bersih. Itu artinya, beban masyarakat miskin untuk memperoleh air bersih akan semakin mahal.

Pada tahun tersebut, dimana laju pertambahan penduduk di ketiga daerah tersebut akan bertambah menjadi lebih dari 3,04 juta jiwa dari 2,6 juta jiwa, kebutuhan air bersih mencapai 47,05 meter kubik per detik. Padahal ketersediaan air bersih hanya mencapai 39,62 meter kubik per detik.

Dengan demikian di tahun itu akan terjadi defisit air bersih sebesar 7,43 meter kubik per detik. Sampai tahun 2010, dengan ketersediaan air 39,62 meter kubik per detik, kebutuhan air bersih di Surabaya dan sekitarnya mencapai 35,41 meter kubik per detik.

Itu pun belum lagi ditambah deretan panjang kasus pencemaran sungai di Indonesia, yang menurut data dari Departemen Pekerjaan Umum, 76,2 persen dari 52 sungai di Jawa, Sumatera, Bali dan Sulawesi telah tercemar. 11 sungai diantaranya tercemar berat.

Direktur Ecoton, salah satu NGO Lingkungan Hidup, Prigi Arisandi mengatakan selain masalah penegakan hukum terhadap kasus pencemaran sungai, juga diperlukan dukungan dari semua pihak, khususnya MUI untuk memberikan fatwa haram terhadap konsumsi air sungai yang tercemar.

"Fatwa itu merupakan bentuk dukungan moral untuk mengubah kebiasaan dan menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya sungai sebagai sumber kehidupan, " katanya.

Sementara itu, pengamat sanitasi dan air bersih ITS Surabaya Eddy Soedjono mengatakan pihak PDAM perlu melakukan perbaikan manajemen, khsususnya soal pengelolaan air bersih kepada masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik maka tingkat kebocoran pipa yang mencapai 40 persen dapat ditekan. Selain itu, masalah pencurian air juga harus menjadi perhatian.

"Seharusnya dengan kapasitas PDAM di Surabaya sebesar 7.820 liter per detik bisa mencukupi 2,6 juta penduduk di Surabaya. Bila dihitung maka rata-rata setiap penduduk bisa menikmati 255 liter per hari, " katanya.

Sebagai perbandingan dengan Amerika Serikat (AS), negara tropis lembab dengan kebiasaan belum tentu mandi dua kali saja konsumsi air bersih penduduknya sekitar 450liter per hari. Sedangkan di Surabaya, dengan konsumsi yang lebih kecil dibandingkan dengan AS harus dipakai mandi terkadang lebih dari 3 kali sehari. (INDRA HARSAPUTRA/The Jakarta Post)















atep
pencemaran air

Dampak Penggunaan Air Tercemar Untuk Irgasi Pertanian dan Rekomendasi Penganannya

PENDAHULUAN
Irigasi merupakan faktor kunci bagi ketahan pangan di Indonesia, air untuk irigasi pertanian di Indonesia sebagian besar kebutuhanya dipenuhi dari penggunaan air permukaan seperti sungai dan danau yang ditampung dalam bendungan-bendungan, sebagian kecil lainnya dipenuhi dengan menggunakan air tanah. Menurut Data sampai saat ini lahan pertanian di Indonesia yang beririgasi sebesar 1,971, 450 ha lahan pertanian (Prawiro, 2003), sedangkan kebutuhan air untuk 1 ha lahan sawah yang dikelola secara konvensional diperlukan sebanyak 1 liter/detik dengan asumsi laju kehilangan akibat penguapan 1-2 mm perhari, jika kita menghitung dengan cermat untuk satu kali musim tanam selama (3-4 bulan) maka akan dihabiskan air sebanyak 11.509. 200 liter/ha (Prawiro, 2006). Berapa air yang diperlukan untuk mengairi lahan pertanian sebesar di atas?, diperkirakan diperlukan sebanyak 100 milyar m3/tahun. Sementara dari sektor rumah tangga diperkirakan untuk per 1000 orang diperlukan air sebanyak 31.356 m3 /tahun, setiap mencetak sawah satu hektar selama setahun diperlukan air sebanyak 41.109 m3 /tahun, sehingga dapa disimpulkan setiap satu hektar sawah bersaing dengan sekitar 1.300 orang (Prawiro, 2006).
Sementara di sisi lain hasil pencitraan satelit luas hutan Indonesia hanya sebesar 18,57%, idealnya luas hutan harus mencapai 30% dari seluruh total wilayah agar keseimbangan air terjaga (Prawiro, 2006), keadaan ini mengakibatkan Indonesia menjadi daerah langganan Banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau.
Permasalahan lain berkaitan dengan air adalah tingkat ketercemaran air yang terus meningkat dari tahun ketahun, hal ini disebabkan oleh laju populasi yang tidak terkendali dan fenomena industri ‘masuk desa’, akibat dibukanya ‘kran’ kebebasan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengembangkan daerahnya secara mandiri, membuat daerah beramai-ramai ‘memikat’ investor untuk membangun industri di daerahnya dengan menawarkan tax yang menggiurkan dengan melupakan kajian dampak lingkungan, akibat dari hal ini adalah roda perekonomian menjadi bergerak dengan cepat seiring dengan gradasi kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh industri. Akhirnya hampir setiap pagi lewat koran dan siaran televis kita biasa mendengar bahwa tingkat pencemaran air, udara di kota X sudah diambang batas yang diperbolehkan.
Akibat dari apa yang digambarkan pada penjelasan sebelumnya terkait dengan tema di atas, adalah petani sebenarnya dihadapkan pada posisi tidak punya pilihan dalam menggunakan air untuk irigasi pada areal pertanianya karena supply air dan kebutuhan untuk irigasi sebenarnya tidak mencukupi, di sisi lain hampir sebagian besar sumber utama air irigasi tersebut terdedah oleh zat-zat pencemar dari kadar paling rendah sampai dengan yang paling tinggi dengan tidak memenuhi angka baku mutu air untuk pertanian,

seperti Ph di bawah 5,5 dan lain-lain.
Terkait dengan hal tersebut, artikel ini hendak mendiskusikan apa dampak yang akan dialami jika permasalahan ini tidak segera tertangani, serta langkah apa yang sebaiknya kita lakukan untuk mereduksi permasalahan tersebut.
PENYEBAB PENCEMARAN AIR
Akar dari permasalahan air termasuk pencemaran air untuk irigasi disebabkan oleh pertumbuhan populasi yang tidak terkendali, pertumbuhan populasi ini mengakibatkan terjadinya pergeseran penggunaan guna lahan (tata guna lahan) dari hutan dan pertanian menjadi wilayah pemukiman dan industri, di satu sisi perubahan ini membawa dampak perubahan ekonomi yang signifikan, namun di sisi lain perubahan ini banyak mengakibatkan permasalahan terhadap lingkungan, berkurangnya daerah resapan air akibat peralihan tataguna lahan mengakibatkan berkurangnya daerah resapan air sehingga mengakibatkan banjir di musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Selain itu akibat pertambahan populasi dan perkembangan industri yang cukup pesat mengakibatkan produksi limbah industri dan domestic menjadi ikut-ikutan meningkat pula, dan hampir sebagian besar limbah-limbahj tersebut dibuang seenaknya di sungai-sungai tanpa terlebih dahulu melakukan treatment untuk mereduksi polutan-polutan berbahaya yang terdedah dalam air sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran air.
Terkait dengan hal ini sebagai contoh penelitian pada 20 sungai di Jawa Barat pada tahun 2000 menunjukkan bahwa angka BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand)-nya melebihi ambang batas. Indikasi serupa terjadi pula di DAS Brantas di Jawa Timur, ditambah dengan tingginya kandungan amoniak. Limbah industri dan rumah tangga merupakan penyumbang terbesar dari pencemaran air tersebut. Kualitas air permukaan danau, situ, dan perairan umum lainnya juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Umumnya disebabkan karena tumbuhnya phitoplankton secara berlebihan (blooming) sehingga menyebabkan terjadinya timbunan senyawa phospat yang berlebihan. Matinya ikan di Danau Singkarak (1999), Danau Maninjau (2003) serta lenyapnya beberapa situ di Jabodetabek menunjukkan tingginya sedimentasi dan pencemaran air permukaan. Kondisi air tanah, khususnya di perkotaan, juga mengkhawatirkan karena terjadinya intrusi air laut dan banyak ditemukan bakteri Escherichia Coli dan logam berat yang melebihi ambang batas. Sementara di sisi lain hampir sebagian besar sungai yang telah disebutkan di atas merupakan sumber utama dari sumber air untuk irigasi di sebagian besar areal-areal persawahan di pulau jawa.
AKIBAT PENGGUNAAN AIR TERCEMAR UNTUK IRIGASI PERTANIAN

Akibat Bagi Kesehatan Manusia
Pengaruh penggunaan air tercemar untuk irigasi pertanian bila kita kaji sebenarnya dapat berdampak positif dan negatif terhadap manusia, namun dampak positifnya hampir tidak ada satu pun kajian ilmiah yang mendukungnya, kecuali bahwa penggunaan air tercemar untuk irigasi terbukti selama ini mampu menghasilkan income bagi para petani serta menjaga ketahanan pangan di negeri ini. Sedangkan dampak negatif dari penggunaan air tercemar terkait dengan kesehatan manusia tidak perlu disangsikan banyaknya.
Kasus penggunaan air tercemar untuk irigasi yang sangat terkenal terhadap kesehatan manusia adalah kasus di Tanzania, air irigasi tercemar ini menjadi vector nyamuk Malaria yang menyebabkan Tanzania menjadi salah satu daerah endemic penyakit malaria sampai saat ini (Armon, 2002). Pengaruh negatif lain akibat penggunaan air tercemar dalam irigasi pertanian adalah kandungan air tercemar yang biasanya mengandung bakteri-bakteri patoghen dan racun-racun kimia, terkait dengan hal ini ada empat kelompok orang yang sangat berisiko tertular patoghen atau ‘teracuni’ zat kimia yaitu, 1) petani dan keluarganya, 2) buruh-buruh tani yang bekerja di lahan yang menggunakan air tercemar, 3) konsumen yang mengkonsumsi produk pertanian yang diolah dengan menggunakan air irigasi yang tercemar, dan 4) semua orang yang berdekatan dengan area pertanian yang menggunakan air tercemar terutama yang paling beresiko adalah anak-anak dan orang tua.
Air tercemar banyak mengandung organisme-organisme yang berbahaya dan menyebabkan banyak penyakit, di dalam air tercemar banyak pathogen yang mampu bertahan dalam jangka waktu yang lama sampai tertransmisikan ke tubuh manusia, seperti cacing-cacing parasit (Braton, 1993), bakteri-bakteri patoghen (Armon, 2002), dan lain-lain. Penyakit cacingan yang kita kenal selama ini salah satu penyebabnya diakibatkan dari penggunaan air tercemar dalam irigasi, selain jeleknya sanitasi lingkungan. Penyakit lain selain yang disebabkan cacing adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh bakteri pathogen, bakteri-bakteri ini dilaporkan dapat mengancam pengguna air tercemar dalam irigasi dan menyebabkan penyakit seperti cholera, typhoid, shighellosis, gardiasis, dan amaebiasis.
Sedangkan dampak negatif yang terkait kandungan zat kimia berbahaya dalam air irigasi yang tercemar dapat dijelaskan sebagai berikut; biasanya zat kimia berbahaya yang terdedah dalam air yang tercemar adalah unsur-unsur logam. Pada jumlah kecil biasanya logam-logam ini secara biologis sangat diperlukan, namun dalam jumlah yang besar dapat membahayakan bagi tubuh. Beberapa zat kimia yang sering ditemukan pada air tercemar untuk irigasi antara lain adalah cobalt, tembaga, dan seng (Armon, 2002), hal ini dikarenakan tanaman tidak mengasorbsi zat kimia ini, dan dalam keadaan melebihi ambang batas dapat berbahaya bagi manusia dan tumbuhan itu sendiri, beberapa laporan penelitian mengindikasikan jika tubuh terdedah polutan ini dalam jangka waktu yang lama akibat mengkonsumsi hasil produksi pertanian yang tercemar dapat memicu terjadinya kanker.
Akibat Bagi Tanah Pertanian
Tanah merupakan campuran dari mineral dan zat organik dengan konsentrasi yang berbeda-beda pada tiap-tiap daerah, dengan alasan ini rasanya sangat sulit untuk mengkaji dan meneliti apakah penggunaan air tercemar (dengan pencemar zat organic) menyebabkan ‘masalah’ bagi tanah atau malah menyebabkan kesuburan bagi tanah. Sebagai contoh nitrogen merupakan salah satu zat organik yang banyak ditemukan dalam air yang tercemar. Nitrogen dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, misalkan nitrat, nitrit, ammonia, dan nitrogen itu sendiri, banyak tanaman hanya menyerap nitrat, tetapi bentuk lain ditranformasikan ke dalam tanah, namun sampai saat ini tidak ada kajian terhadap pengaruhnya bagi tanah. Permasalahan utama yang dihadapi oleh tanah, jika yang terbawa oleh air irigasi tercemar berupa logam, dalam jumlah yang normal logam ini tidak berdampak apapun bagi tanah namun dalam jumlah yang cukup besar dapat

merusak struktur tanah, misalkan dapat meningkatkan PH tanah menjadi lebih asam atau lebih basa. Air irigasi tercemar yang membawa zat pencemar berbetuk solid lama-lama kelamaan akan mengumpul pada permukaan tanah dan menyebabkan tersumbatnya pori-pori tanah sehingga tanah menjadi tidak subur Akibat Bagi Tanaman Pertanian
Akibat penggunaan air tercemar untuk irgasi pertanian bagi tanaman pertanian, paling tidak dapat diklasifikasikan menjadi dua akibat yaitu, 1) akibat terhadap hasil produksi pertanian, 2) akibat terhadap mutu produksi pertanian, seperti kehadiran polutan dalam hasil pertanian, perubahan rasa, dan lain-lain. Harus diakui bahwa hampir sebagian besar air tercemar mengandung zat-zat organik yang dapat menyuburkan tanaman, namun kondisi sebenarnya dalam air tercemar biasanya zat organic ini dalam jumlah yang berlebihan, akibat dari hal ini yaitu menyebabkan kerusakan pada tanaman, sebagai contoh kelebihan kandungan nitrogen pada tanaman akan mengakibatkan pertumbuhan tanaman secara vegetatif menjadi meningkat dari pada menghasilkan buah, selain itu dampak lainnya adalah mengakibatkan penundaan kemasakan buah, temuan ini biasanya ditemukan pada tanaman padi, jangung dan beberapa tanaman lain, bila hal ini terjadi maka dapat menimbulkan kerugian bagi petani karena turunnya produksi dan mutu hasil pertanian. Ancaman lain yang dihadapi adalah terkontaminasinya tanaman pertanian oleh logam-logam berat dapat mengganggu pertumbuhan tanaman itu sendiri dan manusia yang mengkonsumsinya.
1. Tindakan Pencegahan/Preventif
Polutan seperti logam berat, dan beberapa zat organik yang bersifat toksit yang dikeluarkan oleh industri biasanya sangat sulit untuk dihilangkan dari air yang tercemar, salah satu langkah yang paling sederhana adalah ‘mencegah’ terjadinya pengotoran limbah industri dan limbah domestik pada sumber daya air. Pabrik-pabrik diwajibkan mengolah limbah mereka sampai dengan tingkat aman sebelum dapat dibuang ke sungai-sungai, perlu juga dipromosikan cleaner industri processes, juga diperlukan pendidikan masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan pada masyarakat sebagai penyumbang terbesar limbah domestik.

2. Treatment Terhadap Air Tercemar
Permasalahan utama dari permasalahan air saat ini adalah sebagian besar air permukaan sudah tercemar dengan tingkat yang semakin mengkhawatirkan dari wakti ke waktu. Terkait dengan hal tersebut selain tindakan preventif seperti yang telah disebutkan di atas, salah satu langkah yang terpenting adalah usaha untuk ‘menyingkirkan’ polutan-polutan yang terlanjur terdedah di dalam air tercemar tersebut. Salah satu langkah yang dapat diambil terkait dengan hal ini adalah dengan melakukan treatment pada air yang sudah tercemar untuk menurunnkan kadar polutan dalam air sehingga layak untuk dimanfaatkan bagi kehidupan sehari-hari manusia termasuk irigasi.


PENCEMARAN TANAH
PENCEMARAN TANAH
Tanah subur ialah tanah yang cukup mengandung nutrisi bagi tanaman maupun mikro organisme, dan dari segi fisika, kimia, dan biologi memenuhi untuk pertumbuhan. Namun tanah subur dapat rusak karena adanya erosi dan pencemaran tanah.

A. Penyebab Pencemaran Tanah
Pencemaran tanah dapat terjadi karena hal-hal di bawah ini, yaitu :
1. Pencemaran tanah secara langsung
Misalnya karena penggunaan pupuk secara berlebihan, pemberian pestisida, dan pembuangan limbah yang tidak dapat diuraikan seperti plastik, kaleng, botol, dan lain-lainnya.
2. Pencemaran tanah melalui air
Air yang mengandung bahan pencemar (polutan) akan mengubah susunan kimia tanah sehingga mengganggu jasad yang hidup di dalam atau di permukaan tanah.
3. Pencemaran tanah melalui udara
Udara yang tercemar akan menurunkan hujan yang mengandung bahan pencemar yang mengakibatkan tanah tercemar juga.
Bahan-bahan yang dapat mencemari tanah atau pestisida dapat digolongkan
menurut tujuan penggunaannya, yaitu :
1. Insektisida ialah chat pembasmi insekta atau serangga yang biasa mengganggu tanaman.
2. Pestisida ialah obat pembasmi hama tanaman.
3. Herbisida ialah obat pembasmi tanaman yang tidak diharapkan tumbuh.
4. Fungisida ialah obat pembasmi jamur yang tidak di harapkan tumbuh .
5. Rodentisida ialah obat pemusnah binatang pengerat seperti tikus.
6. Akarisida ( Mitesida ) ialah pembunuh kutu.
7. Algisida ialah pembunuh ganggang.
8. Avisida ialah pembunuh burung.
9. Bakterisida ialah pembunuh bakteri.
10.Larvisida ialah pembunuh ulat.
11.Moleksisida ialah pembunuh siput.
12.Nematisida ialah pembunuh nematoda.
13.Ovisida ialah perusak telur.
14.Pedukulisida ialah pembunuh tuma.
15.Piscisida ialah pembunuh ikan
16.Predisida ialah pembunuh predator ( pemangsa ).
17.Silvisida yaitu pembunuh pahon atau pembersih pahon.
18.Termisida ialah pembunuh rayap atau hewan yang suka melubangi kayu.
19.Atraktan ialah penarik serangga melalui baunya.
20.Kemostrilan ialah pensterilan serangga atau vertebrata.
21.Defoliant ialah penggugur daun untuk memudahkan panen.
22.Desikan ialah pengering daun atau bagian tanaman lainnya.
23.Desinpektan ialah pembasmi mikro organisme
24.Repellan ialah penolak atau penghalau hama.
25.Sterilan ialah mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma.
26.Surpaktan ialah untuk meratakan pestisida pada permukaan daun .
27.Stimulan ialah zat yang dapat mendorong pertumbuhan tetapi mematikan terjadinya buah.
Dari daftar di atas, belum semua macam pestisida di sebutkan. Karena itu banyak sekali banyak sekali bahan yang mengandung kimia dan membahayakan makhluk hidup, termasuk manusia. Pestisida membantu manusia memberantas hama.
Disamping itu pestisida mencemari tanah, air, dan udara kita. Jadi, pestisida amat membantu manusia jikadipakai dalam jumlah yang tepat, dan dapat merugikan jika dipakai berlebihan. Demikian juga pupuk yang amat berguna memberikan hara bagi tanaman, jika diberikan berlebihan menjadikan racun bagi tanaman. Deterjen yang bersisa tidak dapat terurai juga akan mencemari tanah. Zat-zat yang terdapat dalam deterjen itu masuk ke dalam tanah dan meracuni tanah. Sampah padat yang bertumpuk banyak yang tidak dapat teruraikan oleh makhluk pengurai dalam waktu yang lama juga akan mencemari tanah juga.
B. Penanganan Pencemaran Tanah
Penanganan pestisida sebagai pencemar tanah ialah dengan tidak menggunakannya. Cara ini merupakan yang paling baik hasilnya, tetapi hama tanah mengakibatkan hasil produksi menurun.
Cara yang dapat ditempuh ialah :
1. pengaturan jenis tanaman dan waktu tanam
2. Memilih varietas tanaman yang tahan hama
3. Menggunakan musuh alami untuk hama
4. Menggunakan horlmon serangga
5. Pemandulan (sterilisasi)
6. Memamfaatkan daya tarik seks untuk serangga
Disamping itu juga kita perlu :
1. Memahami kegiatan pestisida yang bersangkutan
2. Mengikuti petunjuk pemakaian
3. Hati -hati dalam penyimpanan
4. Menggunakan alat-alat pelindung seperti masker, kacamata, dan pakaian.
Pada dasarnya cara-cara yang ditempuh itu berlaku untuk bahan kimia,pupuk, atau deterjen. Kehati-hatian pada pemakaian bahan-bahan ini perlu diperhatikan jangan sampai bahan-bahan itu tececer, mengenai badan manusia, atau mencemarkan lingkungan.
Sedangkan penanganan sampah ialah dengan mencegah timbulnya pencemaran, misalnya dengan cara :
1. Penimbunan (dumping), dengan maksud untuk menutupi rawa, jurang, lekukan tanah di tempat terbuka dan di laut
2. Pengisian tanah kesehatan (sanitary landfill), dengan mengisi tanah berlegok dan kemudian menutupnya dengan tanah.
3. Pencacahan ( grinding), dimana limbah organik dimasukkan kedalam alat penggiling sehingga menjadi kecil-kecil , dialirkan ke selokan, hanyut ke tempat pengolahan lebih lanjut.
4. Penkomposan atau composting yakni pengolahan limbah untuk memperoleh kompos untuk menyuburkan tanah.
5. Pembakaran (incineration), yang menghasilkan gas dan residue
6. Pirolisis, yakni mengolah limbah dengan proses dekomposisi senyawa kimia pada suhu tinggi dengan pembakaran tidak sempurna yang pada akhirnya menghasilkan zat kimia baru yang berguna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar