CHATBOX

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!
Get your own Chat Box! Go Large!
Indonesian Radio Online
http://www.focus.co.id/images/yahoo-icon.png

04 Februari, 2009

Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional[1]. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembaga, pengetahuan, dan teknik.

Faktor


Sumber daya alam yang dimiliki mempengaruhi pembangunan ekonomi.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor nonekonomi.
Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diantaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan keahlian atau kewirausahaan.
Sumber daya alam, yang meliputi tanah dan kekayaan alam seperti kesuburan tanah, keadaan iklim/cuaca, hasil hutan, tambang, dan hasil laut, sangat mempengaruhi pertumbuhan industri suatu negara, terutama dalam hal penyediaan bahan baku produksi. Sementara itu, keahlian dan kewirausahaan dibutuhkan untuk mengolah bahan mentah dari alam, menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi (disebut juga sebagai proses produksi).
Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional melalui jumlah dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial untuk memasarkan hasil-hasil produksi, sementara kualitas penduduk menentukan seberapa besar produktivitas yang ada.
Sementara itu, sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah bahan mentah tersebut. Pembentukan modal dan investasi ditujukan untuk menggali dan mengolah kekayaan. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.
Faktor nonekonomi mencakup kondisi sosial kultur yang ada di masyarakat, keadaan politik, dan sistem yang berkembang dan berlaku.
Latar Belakang

Salah satu tujuan akhir pembangunan ekonomi adalah menciptakan masyarakat
sejahtera, baik pada generasi saat ini maupun generasi yang akan datang. Sesuai dengan
perkembangan paradigma pembangunan ekonomi, maka telah terjadi perubahan tolok
ukur keberhasilan pembangunan ekonomi dari pendekatan pertumbuhan (growth)
menjadi pendekatan kualitas hidup (quality of life). Landasan empirik menunjukkan
bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu dapat memecahkan persoalan
kesejahteraan seperti kemiskinan dan taraf hidup masyarakat secara luas Arsyad (1999),
bahkan temuan World Bank (2002), menyimpulkan pada negara berkembang
pertumbuhan ekonomi menyisakan sederet permasalahan seperti kemiskinan,
pengangguran, kerusakan lingkungan, dan penyebabkan kondisi politik yang tidak
kondusif.
Idealnya pertumbuhan ekonomi nasional dapat menyebabkan demand driven,
sehingga mengakibatkan perubahan yang lebih baik pada kinerja sektor-sektor ekonomi,
khususnya sektor pertanian, sehingga peningkatan intensitas dan produktivitas
komoditas pertanian dapat menyebabkan pertumbuhan output sektor pertanian (Mellor,
2000).
Selain itu, dalam mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi nasional saat ini
belum tampak secara jelas strategi yang digunakan untuk mengantisipasi terjadinya
penurun kualitas lingkungan yang disebabkan karena adanya eksternalitas dari proses
produksi, dengan demikian pertumbuhan ekonomi yang ada sebenarnya bersifat
”semu”. Sejak sebelum tahun 1960-an dengan pendekatan pertumbuhan ekonomi
sebagai tujuan pembangunan ekonomi, maka telah berimplikasi terhadap kebijakan
nasional yang tidak seimbang antara sektor pertanian versus non pertanian atau
pengembangan kapital dan sektor riel. Lebih condong kepada sektor kapital yang
dipandang dapat menciptakan pendapatan dan kedua sektor pertanian dipandang sebagai
sektor yang inferior, sehingga pembangunan sektor pertanian menjadi terabaikan

Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pembentukan Output, Pendapatan,
Nilai Tambah dan Penyerapan Tenaga Kerja

Dengan menggunakan skenario target pertumbuhan ekonomi pemulihan krisis
(4.2%), maka diperoleh dampak terhadap pembentukan output, pendapatan, nilai
tambah dan penyerapan tenaga kerja seperti tercantum pada Tabel 2. Dari tabel
menginformaiskan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4.2% maka nilai
output nasional yang tercipta adalah Rp 155.11 triliun dengan multiplier dampak
sebesar 2.51 artinya bahwa dampak pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan
pendapatan sebesar 2,51 kali dimana satu bagian merupakan dampak langsung dari
pertumbuhan (initial impact) dengan kata lain dampak ikutannya adalah sebesar 1.51,
dampak ikutan ini berasal dari sektor industri terkait dengan sektor utamanya.
Sedangkan pendapatan masyarakat meningkat sebesar Rp 20.64 triliun dengan
multiplier dampak sebesar 2.37, pembentukan nilai tambah sebesar Rp 70.16 triliun
dengan multiplier dampak sebesar 2.23 dan penyerapan tenaga kerja sebesar 4.828.788
orang, dengan demikian setiap pertumbuhan 1% perekonomian nasional, maka
pengangguran akan berkurang sekitar 1.149.711 orang.
Untuk sektor-sektor yang memberikan sumbangan penciptaan pendapatan
tertinggi secara berurutan adalah : sektor pelayanan swasta, sektor perdagangan dan
trasportasi, sektor konstruksi, sektor pengolahan makanan dan sektor peternakan. Pada
sektor pertanian sendiri selain sektor peternakan adalah sektor biji-bijian dan sektor non
biji-bijian.
Begitu pula sektor yang menciptakan nilai tambah output tampak bahwa urutan
tertinggi adalah sektor non pertanian, secara berurutan adalah : sektor perdagangan dan
transportasi, sektor pelayanan swasta, sektor kontruksi, sektor pertambangan dan sektor
pengolahan makanan. Sedangkan pada sektor pertanian adalah sektor biji-bijian dan
peternakan.
Sangat berbeda dengan sektor penciptaan penyerapan tenaga kerja, tampak
bahwa beban sektor pertanian sangat berat. Adalah logis terjadi demikian karena
penyebaran tenaga kerja yang kurang terdidik, ketrampilan rendah dan usia lanjut
berada pada kantong-kantong pertanian dan dipedesaan. Sektor yang menyerap tenaga
kerja tertinggi adalah sektor tanaman biji-bijian, sektor padi, sektor tanaman non bijibijian
dan peternakan, sedangkan dari sektor non pertanian adalah sektor pelayanan
swasta.
Simatupang et al. (2004), mengemukakan bahwa salah satu persoalan besar yang
dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah pengangguran. Laju pengangguran pada
periode tahun 1992-1997 adalah 16.84% atau rata-rata sebesar 4.2 juta orang dan
meningkat pada periode tahun 1998-1999 dengan laju 17.20% atau menjadi 5.5 juta
orang dan meningkat lagi pada periode tahun 2000-2002 menjadi 7.7 juta orang atau
laju pertumbuhan rata-rata 15.65%. Apabila menggunakan angka pengangguran 7.7 juta
orang, maka dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 4.2% maka kemampuan
pertumbuhan ekonomi tersebut dalam menurunkan pengangguran hanya sekitar 62.71%
atau berkurang dari 7.7 juta orang menjadi 2.9 juta orang.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa peranan sektor dalam pencipataaan
output, pendapatan, dan nilai tambah sektor non pertanian yang lebih tinggi, namun
10
dalam penciptaan tenaga kerja sektor pertanian yang paling tinggi. Dengan demikian
beban sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja sangat besar, sementara output,
pendapatan dan nilai tambah rendah. Hal ini dapat disimpulkan bahwa produktivitas
tenaga kerja di sektor pertanian adalah rendah.
• 1)pertumbuhan ekonomi indonesia hanya disokong oleh 1 sumber saja yaitu jakarta. 80% peredaran uang di indonesia terjadi di jakarta. lalu, bagaimana mungkin pertumbuhan yang begitu sentralistik ini bisa membawa kesejahteraan untuk seluruh WNI? katakanlah bahwa pertumbuhan ini hanya disokong oleh kaum kapitalis, jadi tidak mampu mencerminkan bahwa rakyat indonesia kebanyakan turut menikmati pertumbuhan ekonomi itu
2) pertumbuhan ekonomi tidak cukup menarik minat investor karena mereka butuh jaminan kemanan dan kepastian hukum serta birokrasi yang tidak berbelit2. hal ini masih sulit disediakan indonesia. sayangnya, ketika indonesia sudah mendapat investor, indonesia justru tidak mampu mengoptimalkannya. lihat saja bagi hasil indonesia dari freeport maupun exxon.
3) semakin mahalnya pendidikan. kebodohan dan kemiskinan adalah lingkaran setan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar