CHATBOX

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

QuickPost Quickpost this image to Myspace, Digg, Facebook, and others!
Get your own Chat Box! Go Large!
Indonesian Radio Online
http://www.focus.co.id/images/yahoo-icon.png

02 Februari, 2009

Bisnis

BAB 1
PENDAHULUAN

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa bisnis atau usaha erat kaitannya dengan masalah hubungan penjual dan pembeli dan juga sangat erat dengan produksi dan pemasaran yang didalamnya menyangkut juga tentang keselamatan dan kesehatan kerja dan juga keuntungan dan kerugian. Sebelumnya, perusahaan yang melakukan usaha bisnis, akan tetapi sekarang ini pelaku bisnis bukan hanya perusahaan, perseoranganpun bisa saja melakukan bisnis atau usaha. Untuk dapat menangani masalah-masalah dalam melakukan dan merintis suatu bisnis kita harus lebih memikirkan bagaimana cara menerapkan prinsip ekonomi bisnis uang mana dengan modal yang sekecil-kecilnya akan memperoleh hasil yang sebesar-besarnya.
Pengertian bisnis yang dimaksud dalam makalah ini adalah usaha apa yang bisa kita laksanakan dengan berpedoman pada prinsip ekonomi tadi, sertaapa saja yang harus kita miliki jikalau kita akan merintis bisnis. Agar semuanya dapat diperhitungkan dengan baik. Juga perlu diingat, akan pentingnya manajemen yang efektif dan efisien.
Berdasarkan hal tersebut, dirasakan juga permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) kita yang masih kurang dalam memahami ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bisnis.
Untuk mewujudkan suatu tujuan tertentu dalam berbisnis hendaknya ditunjang dengan manajemen yang baik disertai dengan peningkatan pengetahuan dan kemampuan sumberdaya manusia .
Salah satu paktor yang menunjang tercapainya satu tujuan adalah dengan jalan pengorganisasian, dimana pengorganisasian bisnis mempunyai peranan penting dalam menyusun suatu usaha atau bisnis. Oleh karena itu, pengorganisasian adalah salah satu pungsi manajemen yang penting, karena tanpa adanya pengorganisasian dalam pelaksanaan bisnis, maka bisnis tersebut tidak akan berhasil .
Sondang P. Siagian memberikan perhatian pengorganisasian dengan baik sebagai berikut :
Pengorganisasi sebagai fungsi organisasi administrasi dan manajemen ialah keseluruhan proses pengelompokan orang-orang, alat-alat, tugas-tugas tanggung jawab dan wewenang sedemikianrupa sehingga tercipta suatu organisasi yang dapat digerakan sebagai suatu keusahaan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan (1987;116)
Pengertian pengorganisasian di atas, menunjukan bahwa pengorganisasian bisnis merupakan langkah pertama kearah pelaksanaan rencana yang telah disusun sebelumnya.




BAB II
BISNIS
Bisnis Merupakan sebuah kegiatan atau urusan yang pada umumnya melibatkan atau ada unsur uang di dalamnya. Jadi dalam pandangan orang pada umumnya, yang namanya bisnis pasti berkaitan dengan uang meskipun tidak sedikit pula yang menyatakan kegiatan bisnis tidak selalu melibatkan uang.
Apabila melibatkan lembaga, maka bisnis tidak membatasi pada ukuran maupun status kelembagaan. Bisnis sebagai suatu bentuk kegiatan atau aktivitas, bisa terjadi atau dilakukan oleh lembaga pemerintah ataupun swasta baik yang berukuran besar ataupun kecil bahkan perseorangan. Misalnya saja Bapak A sangat pandai berbisnis ataupun Perusahaan PT. ASEMBLING mrngalami kerugian jutaan dollar Amerika. Dalam collin dictonary of Businness yang diterbitkan oleh Harper Collins Publisher Ltd, Bisnis dalam bahasa Inggrisnya ialah Business diidentikkan dengan firm sehingga ke dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan sebagai bisnis atau perusahaan. Business atau firm kemudian diartikan sebagai produsen atau distributor barang (goods) atau jasa (services).
Dengan pengertian seperti yang disebut tersebut, bisnis dianggap sebagai sebuah bentuk.
Bentuk ekonomi dari suatu bisnis dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. BISNIS HORISONTAL (Horizontal Business)
Bisnis Horisontal ialah bisnis yang mengkhususkan diri pada aktivitas tunggal. Misalnya saja suatu perusahaan yang mengkhususkan diri pada produksi roti.
Integritas horisontal ialah salah satu strategi alternatif dalam strategi pengembangan perusahaan.
Integritas horisontal itu, dapat diartikan dalam dua macam, antara lain :
A. Integritas horizontal merupakan specialisasi perusahaan pada tingkat tertentu di bidang produksi atau distributor suatu produk.
B. Integritas horizontal merupakan sebuah upaya untuk peningkatan konsentrasi pasar (Marcel consentration) yang timbul dari pertumbuhan perusahaan atau kalau ingin lebih spesipik pertumbuhan eksternal (ekternal growth) melalui penggabungan (mergers) dan pengambilalihan (takeover) serta integrasi perusahaan-perusahaan pemasok produk yang sama.
Integritas horizontal dapat memberikan keuntungan yang sangat besar kepada perusahaan apabila perusahaan itu dapat menurunkan biaya dengan menggunakan skala ekonomis (economics of scale) untuk meningkatkan pangsa pasar, sehingga perusahaaan akan tetap dapat beradaptasi dan bereaksi terhadap kondisi pasar. Walaupun begitu ada juga kendalanya atau batasan menggunakan integrasi horizontal dalam strategi pertumbuhan perusahaan sangat mungkin permintaan pasar (Marcel demand) secara keseluruhan berada dalam keadaan status atau menurun. Misalnya saja kondisi pasar di Indonesia, ketika terjadi krisis ekonomi yang dimulai pada tahun 1997 yang masíh terus terasa sampai sekarang. Bahkan sekarang dengan kondisi crisis ekonomi global yang melanda Amerika Serikat yang mana akibat yang ditimbulkannya bisa dirasakan oleh seluruh negara di dunia ini. Akibatnya banyak perusahaan yang bangkrut. Untuk menghindari hal tersebut, maka banyak perusahaan untuk meningkatkan pangsa pasarnya banyak yang melakukan merger ataupun takeover, akan tetapi dibatasi oleh kebijakan kompetisi yang ada.
Segmentasi pasar ahíla usa pemisahan pasar pada kelompok-kelompok pembeli menurut jenis produk tertentu dan memerlukan bauran pemasaran sendiri. Mamfaatnya antara lain :
a. Dengan cepat dapoat mendeteksi kecenderungan perubahan pasar.
b. Merencanakan produk sesuai dengan permintaan pasar.
c. Menentukan penanpilan iklan secara efektif.
d. Memamfaatkan penggunaan promosi yang layak dalam media yang benar.

2. BISNIS VERTIKAL (Vertikal Business)
Bisnis vertical adalah suatu bisnis yang menggabungkan dua atau lebih aktivitas yang berhubungan secara vertical. Misalnya saja perusahaan roti yang tidak hanya memproduksi roti akan tetapi perusahaan itu juga membuat gandum.
Integritas vertical ialah penggabungan dua atau bahkan lebih dari dua perusahaan menjadi satu perusahaan yang aktivitas-aktivitasnya berhubungan secara vertical apabila itu dilakukan maka akan memberikan begitu banyak keuntungan bagi perusahaan daripada perusahaan-perusahaan itu melakukan usaha secara sendiri-sendiri dan baru kemudian disinkronkan melalui transaksi pasar. Misalnya saja suatu perusahaan assembling mobil dapat melakukan integrasi vertical ke belakang atau hulu (backward integration) dengan produksi sendiri komponen-komponen untuk mobil (mesin, bodi, ban dan lain-lain). Selain itu perusahaan dapat melakukan integrasi ke depan atau hilir (forward integration) misalnya saja perusahaan itu melakukan pemasaran sendiri mobil yang diproduksinya itu.
Integrasi Vertikal dapat dilakukan dengan dua cara antara lain :
a. Melalui pertumbuhan internal perusahaan yang lebih dikenal dengan organic growth.
b. Dengan melakukan merger atau takeover terhadap pemasok atau distributor yang sudah mapan.
Keuntungan dari integrasi vertical ini antara lain dapat menekan biaya operasional, misalnya saja menghemat biaya produksi dengan mengembangkan dan menghubungkan proses yang berhubungan secara teknis. Misalnya saja menghubungkan proses pembentukkan komponen di pabrik dan dihubungkan dengan proses assembling mobil secara continue dalam hal ini terjadi penyelarasan antara kebutuhan dan produksi yang kemudian akan menurunkan biaya penyimpanan (stok). Intergrasi vertical ini juga dapat membuat kemungkinan perusahaan mengurangi berbagai biaya transaksi dalam melakukan hubungan dengan pemasok maupun distributor luar atau pemasok yang memenuhi persyaratan dan kondisi seperti dinyatakan dalam kontrak serta memastikan bahwa mereka mematuhi kondisi tersebut. Integrasi vertical dapat memberikan jaminan yang lebih besar kepada perusahaan untuk melakukan surpply dan akses kepada konsumen. Integrasi vertical ini dapat juga dilakukan oleh perusahaan sebagai senjata untuk menekan pesaing agar tidak dapat memasuki jaringan surpply dengan menciptakan penghalang-penghalang.
Integrasi vertical hanya menjanjikan potensi pertumbuhan yang terbatas karena nasib perusahaan hanya tertuju pada satu pangsa pasar tertentu. Apabila pangsa pasar yang dituju itu menurun atau statis maka harus dicari peluang baru melalui difersifikasi apalagi jika pengembangan melalui merger kemudiaan dibatasi oleh peraturan.

3. BISNIS KONGLOMERAT (Conglomerate atau Difersified Business)
Bisnis konglomerat ialah suatu bisnis yang menggabungkan sejumlah aktivitas yang tidak berhubungan. Misalnya saja perusahaan roti yang disamping memproduksi roti perusahaan ini juga melakukan jasa keuangan.
Adapun bentuk hukum dari bisnis itu bermacam-macam, antara lain :
A. A sole proprietorship
Bisnis yang dimiliki dan dikendalikan oleh satu orang saja.
B. A partnership
Bisnis yang dimiliki dan dikontrol oleh dua orang atau lebih.
C. Joint stock operation
Bisnis yang dimiliki oleh sekelompok pemegang saham.
D. Cooperative
Bisnis yang dimiliki dan dikuasai oleh sekelompok pekerja.

SIKLUS BISNIS
Siklus bisnis ialah siklus naik turunnya bisnis. Produk memiliki siklus dari mulai pengenalan produk kepada pasar sampai kepada tahap kematangan dan kemudian masa penurunan. Itu biasa kita kenal sebagai product lifecycle. Untuk perekonomian kita mengenal siklus ekonomi atau economic lifecycle.
Siklus bisnis merupakan fluktuasi tingkat aktivitas bisnis dalam perekonomian yang disebabkan oleh adanya perubahan kondisi permintaan khususnya naik turunnya investasi.

Siklus bisnis melalui empat fase yang antara lain :

A. Fase Defresi
Tingkat defresi memiliki tingkat permintaan yang sangat rendah apabila dibanding tingkat kapasitas surpply. Hal ini dibarengi dengan tingkat produksi yang terpaksa rendah karena permintaan rendah, banyaknya persediaan barang yang tidak terjual serta banyaknya pengangguran.
B. Fase Perbaikan
Tingkat perbaikan apabila permintaan akan kembali naik, sebagai akibatnya maka persediaan akan kembali turun akibatnya lagi tingkat produksi dan tingkat penggunaan tenaga kerja akan mengalami kenaikan kembali atau dengan kata lain Boom atau Booming. Misalnya saja pada akhir tahun sembilan pululan dan awal tahun dua ribu, industri perbankan Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangatlah significan.

C. Fase pertumbuhan
Pada tingkat ini akan terjadi tingkat kapasitas dan pengunaaan tenaga kerja penuh sebagai akibat kemungkinan kecenderungan pemanasan ekonomi yang berlebih atau yang biasa disebut overheated dalam perekonomian. Konsekuensinya apabila terjadinya inflasi yang sangat tinggi akibat pemanasan ekonomi yang tinggi pula.

D. Fase Resesi
Periode ini merupakan periode berakhirnya masa booming dengan turunnya permintaan yang mendorong turunnya penggunaan kapasitas produksi dan tenaga kerja yang mengarah pada defresi pada saat permintaan terus mengalami penurunan.

ILMU BISNIS
Pengembangan kemampuan bisnis atau business skill yang menyatakan bahwa bisnis tidak dapat diajarkan dengan pendidikan formal, melainkan harus dijalani dan kegagalan dalam berbisnis merupakan guru yang paling berharga dan akan mengasah kemampuan berbisnis. Ada juga anggapan bahwa bisnis adalah seni, sehingga kemampuan berbisnis hanya dimiliki oleh orang-orang yang memang dianugrahi talenta dan bakat untuk berbisnis.

Metode berbisnis antara lain :
a. metode kasus (case method) dalam pengajarannya apabila sekolah bisnis harvard.
b. Penguatan dasar teori selain kasus-kasus yang diajarkan.

PROSES BISNIS
Pada proses bisnis, memiliki komponen masukan, keluaran dan aktivitas mengubah masukan menjadi keluaran.
Komponen masukan atau input dapat bermacam-macam, tergantung kepada jenis usahanya. Komponen masukan tersebut antara lain :
a. Bahan mentah (raw material).
b. Sumber daya manusia
c. Modal atau uang (capital).
d. Dan lain-lain
Komponen Transform (mengubah komponen masukkan menjadi komponen keluaran) pada proses bisnis dapat berupa :
a. Aktivitas memproduksi barang pada pabrik baik menggunakan mesin maupun tidak.
b. Kegiatan pelayanan nasabah di bank.
c. Dan lain-lain.
Komponen keluaran dari proses bisnis secara generic dapat dibagi menjadi dua yaitu keluaran yang berupa barang dan keluaran yang berupa jasa. Keduanya sangatlah mudah untuk diidentifikasikan.
Teknologi sangatlah berperan dalam proses bisnis dari awal sampai akhir, sehingga sangat mewarnai proses bisnis itu sendiri. Teknologi yang digunakan sangatlah bermacam-macam, antara lain :
- Benefit dari penggunaan teknologi.
- Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengimplementasikannya.
- Biaya perawatan rutin yang harus dikeluarkan.
- Training yang harus dilakukan dan diberikan.
- Kemampuan perusahaan untuk mengikuti perkembangan teknologi agar dapat terus mengikuti keinginan pelanggan.
- Aturan dan peraturan yang berlaku dalam industri.

Apakah bisnis ini multicultural ?
Menurut para praktisi khususnya di Amerika Serikat, menjalankan administrasi bisnis sangatlah dipengaruhi oleh kebudayaan. Menurut para akademisi, hubungan antara faktor-faktor kultural dengan kinerja sudah dapat diikuti dalam studi-dtudi yang dilakukan. Ada pendapat yang menyatakan bahwa perkembangan dunia dan administrasi bisnis telah sedemikian rupa sehingga memperkecil relevansi faktor-faktor kultural.
Manajemen lintas budaya atau manajemen transkultural yakni manajemen yang berlaku secara universal dimana saja dan kapan saja. Judul Managing Across cultures atau multicultural management sebenarnya lebih cocok dijadikan acuan karena pengetahuan dan ketrampilan manajemen yang mampu merespon secara proaktif faktor-faktor cultural yang berbeda-beda dari satu daerah operasi ke daerah operasi lainnya, dari sekelompok karyawan ke sekelompok karyawan lainnya ataupun dari satu pasar ke pasar lainnya.
Kemampuan mengendalikan dan memperhitungkan multikulturalisme dalam lingkungan internal maupun dalam lingkungan eksternal organisasi bisnis merupakan salah satu kekuatan dari suatu perusahaan (strength), sebaliknya ketidakmampuan suatu perusahaan menanggapi multikulturslime dalam lingkungan internal merupakan membiakan kelemahan (weakness), kemampuan menanggapi dan mencermati multikulturalisme dalam lingkungan eksternal akan membuka peluang-peluang (opportunities) baru sedangkan ketidakmampuan dalam hal ini malah membuat faktor multikulturalisme menjadi hantu yang mengancam (threats).

TIGA MITOS YANG MENOLAK MULTIKULTURALISME BISNIS

A. Mitos Global Village
Modernisasi akan mengarah pada village global atau kampung karena adanya budaya dunia yang sama dimana-mana.
Salah satu paradoks global ialah semakin kuatnya pasar mengalami globalisasi, sdemakin seragam prilaku konsumen pada tataran permukaan semakin tegaspula masyarakat mengekspresikan identitas kultural masing-masing.
Dunia bergerak ke arah keseragaman budaya.
Prilaku konsumen yang beragam,bisa mempengaruhiu tingkat permintaan.
B. Mitos Universalitas ilmu Manajemen
Pengetahuan dan praktek manajemen itu bersifat universal. Manajemen ialah manajemen yang merupakan seperangkat prinsip dan kiat yang dapat diterapkan dimana-mana. Manajemen ialah rekayasa sosial (social engineering) dianggap merupakan rekayasa teknologi dan dengan demikian dianggap mengatasi batas-batas kebudayaan.
Terhadap argument itu Peter Winch mengatakan bahwa kebanyakan model organisasi dan prinsip dasar manajemen yang dipelajari di seluruh dunia sebenarnya dikembangkan terutama di Amerika Serikat. Fondasi dan teori manajemen itu ialah kebudayaan Anglo saxon yang memuat asumsi sangat khas tengatung ilmu pengetahuan, teknologi maupun penelitian tentang prilaku umat manusia. Seluruh gambaran organisasi sebagai sebuah mesin dengan manusia sebagai sumber daya setara dengan sumber daya alam dan sumber dana ialah sebuah kenyakinan kultural yang belum tentu dapat diterima dalam banyak kebudayaan lain. Mnurut pandangan barat, manajemen sebagai sebuah profesi dimana rasionalitas yang terbebas dari emosi merupakan keharusan ilmiah merupakan pandangan dunia yang amat khas.

C. Mitos faktor-faktor struktural
Faktor struktural dianggap tidak dipengaruhi oleh faktor kultural, yang mana faktor seperti teknologi dalam proses menunjang bisnis bisa dibilang terpisah dari kebudayaan. Oleh karena itu faktor struktural dan faltor cultural dapat dibedakan dengan jelas.


















BAB III
MANAJEMEN BISNIS
Manajemen ialah proses mengoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan kerja agar dilaksanakan dan diselesaikan dengan efektif dan efisien dengan dan melalui orang lain.
Menurut Stoner (1996.10), Proses ialah cara sistimatik yang sudah ditetapkan dalam melakukan kegiatan yang menggambarkan fungsi-fungsi yang berjalan terus menerus yang dilakukan oleh para manajer. Fungsinya untuk merencanakan, mengoordinasi, memimpin dan mengendalikan. Merancang mengandung arti bahwa para manajer memikirkan secara matang terlebih dahulu sasaran dan tindakan mereka berdasarkan beberapa metode, rencana ataupun logika dan bukan berdasarkan perasaan. Rencana mengarah pada tujuan organisasi dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapainya.
Rencana merupakan pedoman untuk :
a. Organisasi memperoleh dan menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
b. Anggota organisasi akan melaksanakan tugas dan aktivitas yang konsisten dengan tujuan dan prosedur yang ditetapkan.
c. Memonitor dan mengukur kemajuan untuk mencapai tujuan, sehingga tindakan korektif dapat diambil bila kemajuan tidak memuaskan.
Mengoordinasikan ialah proses mengatur dan mengalokasikan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara anggota organisasi sehingga mereka dapat mencapai sasaran organisasi.
Memimpin ialah suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggota kelompok atau seluruh kelompok.
Sementara yang terakhir ialah pengendalian yaitu proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan.

Banyak muncul pemikiran mengenai manajemen, antara lain :
1. Manajemen sebagai ilmu.
Hal ini dikembangkan oleh Luther Gulick. Menurutnya suatu bidang pengetahuan yang secara sistimatik berusaha untuk memahami mengapa dan bagaimana orang bekerja bersama untuk mencapat sasaran dan menjadikan sistem kerjasama itu menjadi lebih berguna bagi kemanusiaan.
Manajemen memiliki serangkaian teori-teori yang terdiri dari berbagai konsep yang sistematik sehingga mampu menuntun manajemen untuk menjelaskan dan memberitahukan apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu dan memungkinkan dapat meramalkan akibat-akibat dari tindakannya.

2. Manajemen sebagai seni.
Menurut Henry M. Boettinger, manajemen ialah seni. Manajemen memerlukan unsur yang sama dengan seni karena merupakan ekspresi dan aktualisai daya cipta, karsa dan rasa manusia dalam mengambil keputusan mempertimbangkan segala sesuatu dengan tujuan untuk mencapai sasaran yang diinginkan.

3. Manajemen sebagai ilmu dan seni
Pandangan ini didasarkan pada di samping mengandalkan diri pada ilmu ia juga harus mempunyai firasat dan pemahaman yang lebih jelas tentang pemahaman di atas, dan harus bisa menganggapnya sebagai sebuah seni untuk mencapai tujuan.
Ilmu diartikan sebagai sekumpulan pengetahuan yang telah disistimatikkan dikumpulkan dan diterima menurut pengertian kebenaran umum mengenai keadaan subjek dan objek tertentu.
Manajemen ilmiah diartikan sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang disistimatisasikan dikumpulkan dan diterima menurut kebenaran universal mengenai manajemen.
Seni sebagai suatu kreativitas pribadi yang kuat disertai keterampilan. Seni manajemen meliputi kemampuan untuk melihat totalitas dari bagian-bagian yang terpisah dan berbeda, kemampuan untuk menciptakan suatu gambaran tentang visi tertentu, kemampuan mengawinkan visi tersebut dengan skill yang efektif. Dengan kata lain mengajarkan kita suatu pengetahuan dan seni mengajarkan orang untuk berpraktek.
4. Manjemen sebagai suatu profesi.
Menurut Edgar H. Schein, pandangnnya bahwa seni ialah profesi karena ciri-ciri profesionalissi dengan ciri manager ialah sama.

Ciri manajer ialah :
a. Mendasarkan keputusannya pada prinsip umum yamg diterapkan dengan sempurna pada situasi tertentu.
b. Tergantung pada prestasi bukan karena favoritisme.
c. Dituntut oleh kode etik profesi yang harus ditaati sepenuhnya.
Kemampuan profesionalisme seseorang manajer dalam melaksakan manajemen sebagai sebuah profesi harus memiliki :
1. Kemampuan tehnik melaksanakan prosedur dan pengetahuan yang khusus.
2. Kemampuan manusiawi.
3. Kemampuan konseptual.
Dalam melakukan bisnis ini, manager harus memiliki ilmu dan pengetahuan serta teknologi yang bisa menjalankan usahanya itu dengan efektifitas dan efisiensi yang tinggi.
Dalam berbisnis, peranan manajemen sangatlah penting. Dengan manajemen yang baik, efektif dan efisien maka bisnis itupun akan berjalan dengan baik dan lancar, akan tetapi jikalau manajemen itu tidak baik, kurang efektif dan kurang efisien, maka bisnis itupun akan hancur dengan sendirinya.
Manajemen disini bukan hanya manajemen kerjanya saja, akan tetapi manajemen keuangan, manajemen emosi dari pemilik dan pelaksana bisnis itu sendiri, manajemen kerja, manajemen keuangan dan permodalan atau investasi dan juga manajemen waktu. Semua itu sangatlah berpengaruh terhadap jalannya suatu bisnis.
Akan tetapi, dalam pelaksanaan bisnis itu, bukan hanya faktor yang bisa diperhitungkan dengan akal pikiran saja yang harus kita perhitungkan, karena bisnis sangatlah dipengaruhi juga oleh faktor keberuntungan.
Budaya bisnis yang sangatlah beraneka ragam sangatlah berpengaruh terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan tingkat produksi dan bagaimana langkah pemasaran yang harus dilakukan.
Penentuan tempat serta waktu pelaksanaan suatu bisnis, banyak sekali hal yang harus kita perhitungkan. Penentuan tempat dan posisi yang strategis serta penentuan manajemen yang strategis dalam sebuah usaha bisnis itu sangat menentukan terhadap kelanjutan jalannya sebuah bisnis.
Di negara kita, khususnya dikalangan masyarakat kecil, bisnis bisa disamakan dengan wiraswasta atau wirausaha. Disini letak ketekunan dan keseriusan seseorang dalam menjalankan usaha itu sangatlah mempengaruhi akan berjalannya sebuah bisnis.
Kalau kita mencermati perubahan budaya di daerah, yang mana awalnya kita hanyalah mengenal dunia tukar menukar barang dan jasa, dengan adanya perkembangan teknologi informasi, teknologi komunikasi, sumber daya manusia yang terus meningkat serta perkembangan jaman yang semakin maju dari hari ke hari, menimbulkan perkembangan daya pikir serta nalar manusia Indonesia untuk dapat lebih mengikuti perkembangan-perkembangan ini, yang nantinya berusaha untuk turut bersaing dengan orang lain dan negara lain.
Pada era globalisasi sekarang ini, dimana adanya krisis ekonomi global yang melanda semua negara di dunia ini, yang mengakibatkan banyak sekali negara yang mengalami kesulitan, yang mana dampaknya itu dapat dirasakan langsung oleh perusahaan-perusahaan di seluruh dunia, dimana bahan-bahan untuk bahan baku produksi sangatlah susah sekali untuk di dapat dan mahal harganya, sementara proses untuk pemasaran pun terasa susah, hal ini dikarenakan negara-negara majupun terkena krisis ini, oleh sebab itu daya beli menjadi menurun.
Perusahaan-perusahaan sekarang banyak sekali yang bangkrut, pengangguran meningkat, daya beli masyarakat berkurang, kebutuhan bertambah terus. Hal ini kalau kita bisa mencermatinya dengan baik, maka bisnis ataupun usaha sendiri bisa menjadi alternatif kita untuk menjadikannya sumber pendapatan ataupun tambahan pendapatan agar bisa memenuhi semua kebutuhan kita.
Budaya bisnis yang sangatlah beraneka ragam sangatlah berpengaruh terhadapsegala sesuatuyang berhubungan dengan tingkat produksi dan bagaimanalangkah pemasaran yang harus dilakukan.
Berbicara tentang budaya bisnis, di setiap daerah bisa dipastikan berbeda-beda. Baik itu antara satu negara dengan negara lainnya, maupun dalam satu negara bisa saja berbeda.
Kemampuan berbisnis setiap orang sangatlah berbeda-beda juga, karena dalam berbisnis faktor pengusaan ilmu pengetahuan dan teknologi setiap orangpun pastilah berbeda juga.
Yang menjadi pertanyaan bagi kita sekarang ialah bisnis apa yang sekarang tidak memerlukan modal yang besar, manajemennya tidak susah dan kalau bisa dapat menghasilkan banyak keuntungan?
Kita tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan gampang, karena bagaimanapun juga suatu usaha yang dijalankan oleh orang lain bagus belum tentu itu bisa berjalan bagus juga buat kita. Prinsip ekonomi yang menjadi pegangan kita sekarang ini, ketakutan kita untuk mengambil keputusan dan ketakutan kita mengalami sebuah kerugian dalam menjalankan sebuah usaha terkadang kalau kita tidak bisa menerapkannya dengan baik membuat kita enggan untuk mencoba merintis sebuah usaha. Masalah yang sekarang kita hadapi ini semakin kompleks saja, hal ini diantaranya saja :
1. Ada kalanya kita memiliki modal untuk investasi, akan tetapi kita tidak tahu dan tidak mengerti usaha apa yang akan kita jalankan.
2. Terkadang kita memiliki ilmu dan teknologi untuk sebuah bisnis atau usaha tertentu, akan tetapi karena tak mempunyai modal dan tidak adanya orang yang mau menanamkan investasinya, maka usaha atau bisnis itupun tidak akan berjalan.
Kemajuan dunia dan dengan adanya pasar global dimana tingkat persaingan dalam semua hal makin berat, terkadang membuat makin sulitnya tingkat kehidupan kita ini.



BAB IV
FAKTOR SUKSES DALAM BERBISNIS

Falsapah penjual ialah landasan sendi dari pola berpikir penjual dalam menjual dengan dapat diterima oleh pembeli dan lainnya.
Dalam melaksanakan falsapah itu, maka perlu adanya pelayanan dari penjual yang menimbulkan rasa puas bagi pembeli.
Sebelum kita melakukan suatu bisnis biasanya kita berusaha untuk memperhitungkan semua asfek-asfek yang mungkin akan mempengaruhi jalannya suatu bisnis. Asfek yang mungkin kita perhitungkan disini, misalnya saja :
1. Berapa modal yang kita miliki yang mau diinvestasikan untuk bisnis ini?
2. Bisnis dalam bidang apa yang akan kita ambil?
3. Seberapa besar bisnis ini?
4. Gampangkah proses pelaksanaan bisnis ini?
5. Mudahkah menjalankannya?
6. Mudahkah bahan bakunya?
7. Mudahkah pemasarannya?
8. Apakah bisa berjalan usaha ini dengan lancar dan mungkinkah kita bisa mengembangkannya untuk bisa lebih meningkat?
9. Adakah investor yang mau menanamkan modalnya untuk bekerjasama dalam menumbuhkembangkan usaha ini?
10. dan masih banyak lagi pertanyaan yang mungkin timbul kalau kita mau mencoba merintis sebuah usaha.
Akan tetapi semua itu janganlah membuat kita takut untuk mencoba merintis sebuah bisnis, justru itu harusnya dianggap sebagai sebuah tantangan yang harus kita hadapi dan selesaikan untuk nantinya kita dapat memperoleh hasil dari usaha dan bisnis kita sesuai dengan target yang kita harapkan.
Dalam berbisnis kita tidak hanya mengharapkan keuntungan yang besar, akan tetapi juga kita harus bisa mencari kepuasaan dari para pelanggan karena kita dalam berbisnis pasti menginginkan usaha yang kita lakukan itu bisa berkelanjutan. Walaupun prinsip ekomoni kita jalankan dengan baik, akan tetapi kita tidakboleh meninggalkan tingkat kepuasaan dari pembeli kita.

Faktor sukses dalam berbisnis ialah :
1. Faktor kemampuan berinteraksi sosial dan penguat positif atau sebagai psikologi baru tentang persuasi.
Kemampuan berinteraksi atau persuasip pelaku bisnis biasanya sangat dipengaruhi oleh bebarapa faktor yang satu sama lain saling mendukung, diantaranya saja :
a. Pemahaman seseorang terhadap produk bisnis yang dia ambil.
b. Kemampuan itu bisa membuka dan memperkenal produk tersebut.
c. Kemampuan promosi yang kurang ataupun kurangnya modal untuk melakukan promosi atau bisa saja promosi yang dilakukan itu kurang tepat sasaran, yang mana kurang efektif dan efisien juga.
d. Kemampuan untuk menyakinkan pihak pembeli untuk mau membeli produk kita, kurang juga.
2. Faktor dorongan untuk berprestasi atau keinginan untuk sukses.
Terkadang faktor ini bisa menjadi faktor utama dan pertama yang paling besar menentukan dalam berjalannya sebuah bisnis.
Prestasi dalam berbisnis biasanya dapat terlihat pada perkembangan bisnis tersebut.
Rasa ingin menjadi orang yang sukses dan mapan dalam berbagai hal serta bisa memenuhi semua kebutuhan yang harus dipenuhi, menjadikan kita giat berusaha tapi ada kalanya membuat orang putus asa dan takut gagal berusaha.

Pokok-pokok dalam berbisnis, antara lain :
a. Mewujudkan iklim hubungan yang harmonis antara penjual dan pembeli.
b. Dapat mempengaruhi persepsi dan pandangan pembeli untuk memaknai secara benar fungsi dan mamfaat produk kita.
c. Memotivasi pembeli untuk berlangganan dan menjadi agen dari produk kita. Disini pembeli bisa turut mempromosikan produk kita yang nantinya diapun akan mendapatkan keuntungan.
d. Menentukan pencapaian target yang bagus.
e. Manajemen waktu kerja yang efektif dan harmonis untuk kepentingan bisnis.
f. Mengolah masukan untuk perbaikan bisnis lebih lanjut.

Kalau kita mau berbisnis, kita berusaha untuk bisa memahami sifat dari pembisnis itu sendiri yang antara lain :
1. Mampu mengendalikan diri dan tak mudah terombang ambing situasi.
2. Mampu memisahkan urusan pribadi dan urusan bisnis.
3. Mampu membina hubungan baik dengan sesama umat manusia sehingga pelanggan puas.
4. Mampu mengayomi dan menggerakkan pembeli menjadi pelangan dan turut serta mempromosikan pada yang lain.
5. Mampu memprakarsai dalam melakukan tindakan produktif sehingga pembeli dapat mengambil keputusan untuk membeli.
6. Mempunyai kenyakinan yang kuat dan berani mengambil resiko secara moderat.
7. Mempunyai sifat tak lekas putus asa dan terus berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
8. Mempunyai jasmani yang energik dan mental yang tangguh dan berhati nurani.
9. Mempunyai sifat antusias dan perhatian serta ramah tamah dalam bersikap.
10. Mempunyai semangat tinggi dalam mencapai tujuan bisnis dan hidupnya.

Faktor yang sangat mempengaruhi komunikasi dalam berbisnis antara lain :
a. Keterampilan dalam menjual.
b. Sikap Penjual.
c. Pengetahuan penjual.
d. Media komunikasi.
Mengingat faktor persaingan bisnis sangatlah besar, maka kita tidak boleh cepat merasa puas terhadap apa yang telah kita capai sekarang.
Seperti yang telah kita bahas pada bab awal, dimana bisnis itu sangatlah dipengaruhi oleh tingkat permintaan, oleh sebab itu bisnis yang dilaksanakan dan berjalan dengan baik harus berusaha kita pertahankan dan kalau memungkinkan ditingkatkan.
Manajemen yang baik, yang efektif dan efisien sangatlah punya peranan penting.
Hal ini dikarenakan faktor multiculturalisme dalam berbisnis.










BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang dapat penulis ambil setelah melakukan mempelajari tentang bisnis ini adalah :
1. Bahwa Bisnis itu tidak mudah untuk dilakukan dan harus dilakukan dengan perhitungan yang matang.
2. Buatlah manajemen yang bagus, yang efektif dan efisien dalam berbisnis.
3. Jangan takut untuk mencoba berbisnis, karena kegagalan ilah keberhasilan yang tertunda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar